RADAR JOGJA - Saat menonton drama Korea membuat kita merasa ingin sekali untuk tinggal di Korea.
Pria dan wanita yang berperan sebagai aktor juga sangat cantik dan tampan dan sikap mereka yang romantis, penuh dedikasi dan menghormati orang lain.
Korea selatan dikenal dengan negara yang memikat melalui produksi drama Korea (drakor) yang sukses menampilkan kehidupan yang romantis, penuh intrik dan penuh warna.
Namun dibalik keindahan yang tergambar di drakor, realitas kehidupan di Korea Selatan bisa jauh terbalik dengan kehidupan di drakor.
Berikut adalah sisi gelap kehidupan di Korea Selatan :
KDRT atau kekerasan dalam rumah tangga yang tinggi pada wanita
Kekerasan dalam rumah tangga merupakan masalah serius yang dihadapi oleh pemerintah dan masyarakat Korea Selatan.
Menurut penelitian satu dari enam wanita yang sudah menikah pernah mengalami lebih dari satu kali kekerasan dari suaminya.
KDRT di Korea Selatan adalah salah satu yang tertinggi di dunia.
Pelecehan terhadap Wanita
Selain KDRT, wanita di Korea sering mendapatkan perundung disetiap kehidupan.
Tidak hanya dirumah, ditempat kerja pun sampai di masyarakat umum.
Hal ini merupakan imbas dari kekuasaan Presiden dictator Park Chung-Hee.
Tuntutan memenuhi Korean Beauty Standard
Korean beauty standard merupakan standar kecantikan yang ditetapkan Korea Selatan untuk perempuan dan laki-laki.
Korean beauty standard bagi perempuan ialah dengan memiliki bentuk tubuh langsing, kulit cerah, dagu yang runcing dan masih banyak lagi.
Tingkat bunuh diri yang tinggi
Korea Selatan merupakan salah satu negar dengan tingkat bunuh diri yang tinggi.
Dilansir dari Asia Times, pada tahun 2019 Korea menjadi negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi nomor empat.
Mereka melakukan bunuh diri karena berbagai alasan seperti tuntutan hidup yang tinggi, tekanan yang besar dari pekerjaan, bullying dan masih banyak lagi.
Bullying
Salah satu alasan kenapa tingkat bunuh diri di Korea Selatan sangat besar adalah karna adanya bullying.
Menurut catatan penelitian, tindakan bullying di Korea Selatan sudah ada sejak zaman kerajaan.
Tindakan bullying pun tidak hanya dilakukan ketika disekolah, di rumah, akan tetapi ketika militer pun mereka masih tetap mendapat bulliying. (Firda Zahrotun Nisa/Radar Jogja)
Baca Juga: Disorot Mendagri, Pemprov Ibaratkan Motor, BBM Besar Tenaga Kurang, Bisa Mrebet
Editor : Meitika Candra Lantiva