RADAR JOGJA – Orang tua murid di Florida ngamuk dan marah setelah seorang guru secara tidak sengaja menayangkan film horor Winnie The Pooh: Blood And Honey di ruangan kelas 4 mereka.
Dilansir dari movieindozoneid, pada tanggal 2 Oktober, siswa di Akademi Pendidikan Inovatif di Miami yang berusia antara sembilan dan sepuluh tahun, dilaporkan diperlihatkan tayangan horor selama 20 – 30 menit, menurut orang tua Michelle Diaz.
Berbicara kepada CBS News Miami, Diaz mengatakan bahwa meskipun film ini adalah pilihan siswa, tapi bukan tanggung jawab mereka untuk memilihnya.
Dirinya juga mengklaim bahwa anak – anak mencoba menghentikan film tersebut setelah menonton beberapa adegan yang ditampilkan, namun diabakan oleh sang guru.
“Mereka tidak berhak memutuskan apa yang mereka inginkan. Terserah professor untuk melihat isinya. Lalu, ia tidak menghentikan filmnya, meskipun anak – anak berkata, Hei, hentikan filmnya, kami tidak ingin menonton ini,” ungkap Diaz menjelaskan.
Film Horor Winnie The Pooh: Blood And Honey tahun 2023 tidak memiliki rating, tetapi berisi gambar – gambar darah, adegan penyiksaan, sumpah serapah, dan ketelanjangan.
Film satu ini mengikuti karakter dari cerita anak – anak klasik yang memulai sebuah aksi pembunuhan setelah ditinggalkan oleh Christopher Robin.
Kepala sekolah, Vera Hirsh, setelah adanya laporan tersebut, langsung berbicara kepada UNILAD mengenai hal ini dan mengatakan yang menurutnya terjadi.
“Minggu lalu, sebuah video secara tidak sengaja ditayangkan oleh seorang guru saat makan siang di dalam ruangan. Hanya 20 menit pertama dari film tersebut yang diputar. Selama 20 menit pertama itu, ada adegan menakutkan yang ditampilkan. Pada saat itu, guru mematikan video tersebut,” ucap sang kepala sekolah.
“Orang tua diyakinkan bahwa sekolah telah mengikuti semua kebijakan dan prosedur distrik sekolah dalam menanggapi insiden tersebut dan akan terus mendukung keselamatan dan kesejahteraan siswa setiap hari,” lanjutnya.
Namun, Diaz merasa tidak yakin dengan upaya yang dilakukan oleh kepala sekolah. Ia merasa benar – benar ditinggalkan oleh sekolah karena perkara ini.
Sang kepala sekolah, Hirsh, yang terus menyangkal bahwa murid – murid diperlihatkan kekerasan.
Hirsh mengatakan kepada Miami New Times bahwa sebagian besar adegan pembunuhan yang mengerikan terjadi di akhir film.
Dia menyimpulkan bahwa sekolah tersebut secara aktif memantau murid – muridnya dan telah mengatur agar konselor kesehatan mental bertemu dengan mereka yang terpengaruh oleh film horor tersebut. (Juliana Belence/ RADAR JOGJA)
Editor : Bahana.