Koordinator Jaringan Advokasi HIV dan AIDS (JAVA) DIJ Ghanis Kristia menegaskan air liur tidak menularkan HIV. Kontak sosial juga tidak menularkan virus.
Penggunaan alat makan bersama, kontak sosial biasa kemudian misalnya berpelukan, berciuman, tinggal satu rumah, penggunaan WC bersama, berenang bersama. “Gigitan nyamuk juga tidak menularkan HIV," tegasnya kemarin (15/6).
Ghanis yang juga merupakan Project Manager UPKM/CD Bethesda Yakkum Jogja juga menegaskan ada empat cairan tubuh yang bisa menularkan virus HIV. Empat cairan meliputi cairan darah, cairan vagina, cairan mani, dan air susu ibu (ASI).
Karena empat cairan yang bisa menularkan virus HIV berarti ada perilaku-perilaku yang bisa menularkan. Ghanis menjelaskan perilaku itu meliputi hubungan seks yang tidak aman, hubungan seks yang berganti-ganti pasangan, dan hubungan seks yang dilakukan orang dengan orang dengan HIV.
Sedangkan melalui cairan darah berarti melalui transfusi darah yang tidak di-screening. Kemudian penggunaan jarum suntik bersamaan yang tidak disterilkan. Biasanya pada pecandu narkotika suntik.
"Kemudian air susu ibu (ASI) jelas dari Ibu dengan HIV positif kepada bayi yang disusuinya," ujarnya.
Meski begitu bagi ibu yang minum obat Antiretroviral (ARV) secara rutin kemudian virus tersupresi maka bisa memberikan ASI kepada bayinya. Namun dengan batas waktu tertentu.
Termasuk saat akan melahirkan apabila patuh mengkonsumsi ARV dan saat dites tidak terdeteksi virus. Maka diperbolehkan melakukan persalinan secara normal. "Kemudian virus tersupresi dan tidak terdeteksi maka dia boleh memberikan ASI tapi hanya 6 bulan saja. Dan itu aman," ujarnya.
Di sisi lain, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menargetkan Indonesia menuju three zero HIV/AIDS 2030. Meliputi zero infeksi baru HIV, zero kematian terkait AIDS dan zero stigma-diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS.
Program ini harus didukung oleh seluruh elemen masyarakat. Target zero stigma dan diskriminasi juga harus ada dalam diri setiap orang. Bisa dimulai dengan pemahaman akan penularan HIV itu sendiri.
Pengelola Program HIV dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) DIJ Siti Baruni mengatakan stigma negatif dan diskriminasi kepada orang dengan HIV masih ada sampai sekarang. Dia mengatakan pentingnya memiliki empati pada jiwa setiap orang. "Harus ada yang kita ingat, satu kata, empati," ujarnya.
Orang dengan HIV membutuhkan dukungan dan perlu dikuatkan. Bahkan banyak yang tertular bukan karena perbuatannya. Namun harus menanggung stigma negatif dan diskriminasi dari masyarakat.
Dia menyebut pernah ada kasus anak TK yang menerima diskriminasi. Orangtua siswa lain mengancam memindahkan anak mereka dari sekolah tersebut apabila anak dengan HIV masih tetap bersekolah. "Yang dibutuhkan ODHIV adalah dukungan, support menguatkan bahwa dunianya tidak segera berakhir karena status HIV-nya," ujarnya. (lan/din/sat)