Tak hanya suporter yang gemas dengan permorfa PSIM Jogja di awal putaran kedua Super League musim 2025/2026. Sang pelatih Jean Paul van Gastel pun merasakan hal yang sama. Tapi dia punya kendala.
Seperti diketahui, dari lima laga yang telah dijalani, Laskar Mataram belum sekalipun mendapatkan kemenangan. Laskar Mataram mencatatkan dua kekalahan saat lawan Persebaya Surabaya (0-3), dan Borneo FC (1-2). Kemudian, anak-anak Jogja bermain imbang saat bertemu dengan, Persis Solo (0-0), Persik Kediri (2-2), serta Bali United (3-3).
Baca Juga: Ini Alasan UNY Tak Berikan Pendampingan Hukum Selama Proses Hukum Perdana Arie
Menanggapi hal tersebut, van Gastel langsung angkat bicara. Menurutnya hasil yang diraih oleh timnya pada lima laga terakhir itu disebabkan karena setiap laga memiliki masalah yang berbeda-beda saat dihadapi.
Sebagai contoh, van Gastel menjelaskan saat melawan Persebaya Surabaya, timnya memiliki masalah pada kedalaman skuad. Lalu saat menghadapi Borneo FC tim kebobolan di waktu tambahan.
Kemudian saat menjamu Persis Solo, meski Ze Valente dan kawan-kawan punya jumlah peluang, tapi itu belum bisa dikonversikan menjadi sebuah gol.
Baca Juga: Tak Ada Izin Tambang di Sambeng, Bupati Magelang: Tanah Uruk Tol dari Salam dan Kulon Progo
Saat menghadapi Persik Kediri pun bagi van Gastel hasil imbang yang didapat itu juga merupakan hasil yang maksimal bagi timnya. Itu juga termasuk saat menjamu Bali United.
"Tapi saya pikir kami harus realistis bahwa kami menargetkan untuk tidak terdegradasi dan berada di papan atas klasemen tidak berarti realistis bagi kami untuk berada di posisi itu," jelasnya, Rabu (25/2).
Tak berhenti sampai di situ, menurut van Gastel, sejatinya sejauh ini PSIM Jogja sudah berhasil tampil dengan baik. Namun beberapa hasil yang kurang maksimal itu didapat karena timnya memiliki masalah struktural pada kedalaman skuadnya.
Baca Juga: Laga PSBS Biak-PSIM Jogja Digelar di MagIS tanpa Penonton, Suporter Diimbau Tak Datang ke Stadion
Tetapi dia mengakui hal itu merupakan tugasnya untuk mencoba memperbaikinya. Dan secara keseluruhan dia masih puas dengan kualitas permainan tim yang lahir 5 September 1929 itu.
“Tetapi kami butuh kemenangan, karena pada akhirnya kami ingin menang, kami butuh kemenangan dan semakin cepat kami memiliki jumlah poin tertentu maka akan lebih mudah untuk bermain," lontarnya. (ayu/pra)
Editor : Heru Pratomo