Fahmi Fahriza/Radar Jogja
JOGJA - Pemain asing PSIM Jogja Yusaku Yamadera dalam dua pertandingan terakhir menjalani adaptasi peran baru setelah dipercaya sebagai bek kiri dalam skema Jean Paul van Gastel. Posisi itu membuat pemain asal Jepang ini harus bekerja lebih keras, terutama dalam aspek sprint dan kontribusi menyerang.
Saat dikonfirmasi, Yusaku mengakui perbedaan paling terasa saat bergeser dari bek tengah ke sisi kiri pertahanan adalah tuntutan fisik yang meningkat. "Saya harus melakukan sprint lebih banyak dibanding saat bermain sebagai bek tengah. Jadi memang perlu adaptasi," ujarnya, Selasa (10/2).
Selain faktor fisik, ia juga dituntut lebih aktif dalam membangun serangan dari lini belakang. Menurutnya, pengambilan posisi saat menerima bola menjadi salah satu tantangan utama.
"Hal tersulit adalah saya selalu harus berpikir di mana harus menerima bola, lalu melakukan build-up dari belakang. Itu poin utamanya," jelasnya.
Meski demikian secara pribadi Yusaku mengaku menikmati peran barunya tersebut. Bermain sebagai bek kiri memberinya kesempatan untuk lebih ofensif dan sesekali ikut membantu serangan.
"Di posisi ini saya harus bermain lebih menyerang. Cukup menyenangkan karena terkadang saya bisa ikut naik membantu serangan. Jadi itu bagus," katanya.
Secara pribadi, Yusaku mengungkapkan posisi idealnya adalah sebagai bek tengah kiri dalam skema tiga bek. Namun, ia menegaskan siap ditempatkan di mana pun sesuai kebutuhan tim.
"Posisi terbaik saya sebenarnya di formasi tiga bek. Di sisi kiri dari tiga bek itu. Tapi sekarang saya bermain bek kiri atau bek tengah, dan saya bisa memainkannya," ucapnya.
Lebih lanjut soal kondisi fisik, pemain asal Nagano itu memastikan dirinya kini sudah kembali bugar. Ia juga menekankan pentingnya mengatur tenaga selama pertandingan, terutama saat bermain di sektor kiri yang menuntut mobilitas tinggi.
Dengan kondisi yang semakin membaik dan adaptasi yang terus berjalan, Yamadera berharap bisa memberikan kontribusi maksimal bagi Laskar Mataram di laga-laga berikutnya. "Kuncinya adalah tahu kapan harus mengeluarkan tenaga dan kapan harus menahan. Jadi selalu membaca momentum," tambahnya. (iza/laz)