
Manajer Newcastle United, Matthias Jaissle, menegaskan tidak ambil pusing dengan anggapan bahwa timnya masih dipandang sebelah mata menjelang bergulirnya Premier League musim baru.
Jaissle menjadi pilihan mengejutkan Newcastle untuk menggantikan Eddie Howe pada awal Agustus. Penunjukan pelatih asal Jerman itu sempat menimbulkan keraguan mengingat usianya yang baru 38 tahun dan belum memiliki pengalaman menangani klub di kompetisi liga top Eropa.
Sebelum datang ke St James' Park, Jaissle pernah menangani Red Bull Salzburg dan Al-Ahli. Dalam perjalanan kariernya sebagai pelatih, ia telah meraih gelar Liga Austria dan Liga Champions Asia.
Kini, Jaissle menghadapi tantangan besar untuk membangkitkan Newcastle setelah klub mengakhiri musim lalu dengan hasil mengecewakan. The Magpies hanya finis di posisi ke-12 klasemen Premier League.
Kondisi Newcastle semakin rumit setelah kepergian Howe. Pelatih asal Inggris tersebut meninggalkan klub setelah melalui periode penuh gejolak yang ditandai dengan hengkangnya sejumlah pemain penting.
Howe sebelumnya berhasil mengakhiri penantian 56 tahun Newcastle untuk meraih trofi utama dengan memenangkan Piala Liga pada 2025. Namun setelah itu, klub harus kehilangan sejumlah pemain bintang.
Alexander Isak dilepas ke Liverpool pada tahun lalu, sementara Bruno Guimaraes, Sandro Tonali, dan Anthony Gordon juga meninggalkan Newcastle setelah musim sebelumnya berakhir.
Jaissle kini mendapat tugas untuk mengangkat kembali performa Newcastle. Sejumlah pemain muda seperti Bazoumana Toure, Sean Steur, dan Aladji Bamba telah didatangkan. Jaissle juga masih berharap klub mendapatkan tambahan pemain sebelum bursa transfer ditutup.
Namun, performa Newcastle selama pramusim belum menunjukkan hasil yang meyakinkan. Situasi tersebut membuat keraguan terhadap proyek Jaissle semakin besar.
Meski demikian, sang pelatih memilih tidak terganggu dengan berbagai penilaian dari luar.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




