RADAR JOGJA – Coach Timnas U-16 Bima Sakti Tukiman menerapkan strategi khusus dalam melatih para Garuda muda. Tak sekadar sebagai pelatih tapi juga memposisikan diri sebagai sahabat dan orangtua. Sehingga mampu menjalin kedekatan secara emosional kepada seluruh pemain.

Bima Sakti mengakui mental psikologis pemain masih rentan. Terlebih usia remaja masih adalah fase pencarian jati diri. Sehingga terkadang tidak terkontrol dan bisa cenderung emosional.

“Saya menempatkan sebagai pelatih, sebagai ayah mereka, sebagai kakak mereka bahkan bisa sejajar seperti teman. Ya kadang mereka curhat juga kangen dengan orang tua karena seumuran mereka ini 15, 16 tahun ini mereka masih butuh perhatian orangtua,” jelasnya ditemui di Lapangan UNY, Selasa (2/8).Timnas U-16

Bima Sakti juga kerap melakukan perbincangan secara personal. Seluruhnya mengaku ingin membahagiakan orangtuanya masing-masing. Tentunya lewat prestasi sebagai pemain Timnas U-16.

Sebagai bentuk dukungan moral, Bima Sakti memasang foto masing-masing orangtua di ruang ganti pemain. Dengan harapan dapat menaikan semangat anak asuhnya. Meski para orangtua pemain tidak bisa menyaksikan secara langsung pertandingan di stadion bola.

“Kita di ruang ganti kita tempel foto-foto orangtua mereka. Sebelum masuk ke lapangan, tatap wajah orangtua mereka walaupun tidak hadir secara fisik tapi Insyaallah orang tua mereka pasti akan bangga mendoakan mereka saat pertandingan,” katanya.

Para pelatih juga menerapkan aturan secara tegas dan disiplin. Baik untuk urusan berlatih hingga beribadah. Seperti jika sudah memasuki 11.00 WIB, maka pemain muslim harus berada di masjid depan hotel untuk beribadah.

Begitupula aturan penggunaan gawai. Setiap pemain hanya dibatasi waktu 4 jam mengakses gawai. Batas waktunya hingga 21.00 WIB setiap harinya. Apabila ada yang curi-curi kesempatan maka seluruh tim akan mendapatkan sanksi.

“Kita bikin aturan siapa yang enggak salat kita potong Rp. 100 ribu, kalau yang terlambat kita potong uangnya denda Rp. 50 ribu. Enggak seragam itu Rp. 50 ribu. Jadi kita belajar disiplin dari hal-hal yang kecil agar mereka terbawa ke dalam pertandingan,” tegasnya.

Terkait batas waktu penggunaan gawai, Bima Sakti memiliki alasan yang kuat. Berupa antisipasi atas paparan media sosial. Meski memiliki nilai positif, tidak sedikit yang berujung pada tekanan mental dan psikis.

Kondisi ini bisa terjadi apabila ada komentar negatif. Kritikan yang tak solutif terkadang bisa membuat mental seorang pemain anjlok. Apalagi para pemain timnas U-16 ini masih dalam usia remaja.

“Ya boleh bermain media sosial tapi jangan sampai mereka terbuai dengan pujian, bahkan kritikan juga ya. Saya aja yang umur 47 kadang baca hal ini agak terganggu secara psikologis atau gimana-gimana,” ujarnya.

Pemain nomor punggung 8 Narendra Tegar Islami mengaku tak terbebani dengan pola latihan coach Bima Sakti Tukiman. Dia justru mendukung skema ini. Terlebih tujuan utama adalah membentuk mental disiplin setiap pemain.

Menurutnya sanksi atau denda bukanlah bicara nominal. Namun nilai disiplin yang didapat dalam setiap ketegasan yang ada. Sehingga para pemain dapat bertanggungjawab atas dirinya sendiri sebagai penggawa Timnas U-16.

“Enggak (terbeban). Itu cukup buat saya sangat disiplin, pelajaran buat saya agar semua pemain disiplin waktu. Semuanya agar semua kompak dan tidak sembarangan,” katanya.

Tegar optimis timnya bisa menjadi juara Piala AFF U-16. Lalu target setelahnya adalah bermain di ajang Piala AFC. Sehingga dia dan timnya berjuang maksimal demi kebanggaan Indonesia.

Tak lupa dia juga meminta dukungan dari suporter Indonesia. Terlebih khusus lagi orangtuanya yang ada di Jawa Timur. Agar memberikan dukungan moril kepada para penggawa Timnas U-16 Indonesia.

“Pasti buat orangtua, buat masyarakat Indonesia, buat diri saya sendiri. Mohon doa, terima kasih sudah membuat saya sebagai pemain. Terima kasih sudah mensuport saya sejauh ini. Terimakasih doa dan dukungannya,” ujarnya. (Dwi)

Main Bola