RADAR JOGJA – Misbakus Solikin lahir dan besar di Jawa Timur dengan kultur sepak bola kuat. Selama 12 tahun berkarir, dia hanya membela klub asal Jatim. Namun pada musim 2020, ia memutuskan merantau. Dan, mencoba peruntungan bersama PSS Sleman.

ANA R. DEWI, Sleman, Radar Jogja

Tim berjuluk Super Elang Jawa itu klub pertama luar Jatim sekaligus klub ke-lima yang diperkuat gelandang 28 tahun itu. Empat klub sebelumnya adalah Persekap Pasuruan, Persatu Tuban, Persebaya Surabaya, dan Madura United.

“Main di luar Jatim mungkin tantangannya lebih ke adaptasi dengan tempat baru. Saya nggak sendiri, anak dan istri juga saya bawa ke Sleman,” ujarnya kepada Radar Jogja (12/7).

Adakah perbedaan mencolok dengan klub-klub sebelumnya? “Secara tim sebenarnya nggak jauh beda. So far sama-sama nyaman buat saya,” beber suami Devina Ferling itu.

Meski belum genap dua tahun tinggal di Bumi Sembada, Misbakus mengaku sangat nyaman. “Buat saya tim yang profesional tapi tidak meninggalkan asas kekeluargaan itu yang terbaik. Sejauh ini saya mendapatkan keduanya di PSS,” tambahnya.

Misbakus sendiri resmi diperkenalkan PSS pada Februari 2020. Pemain kelahiran 1 September 1992 itu mengatakan, alasan bergabung dengan Super Elja lantaran PSS jadi tim yang paling serius menginginkan jasanya. “Saya butuh tim yang serius ingin saya menjadi bagian dari tim. PSS juga punya suporter yang luar biasa kreatif dan positif,” katanya. Dua aspek ini cukup membuat ia mantap ke PSS.

Sayang, baru sebulan bergabung kompetisi Liga 1 musim 2020 malah ditunda akibat pandemi Covid-19 yang merebak. Bahkan, sampai saat ini kompetisi paling elite di Indonesia itu urung diputar kembali. Hal itu pun cukup membikin Misbakus kecewa.

Bersama PSS, bapak satu anak itu ingin membawa Super Elja terbang tinggi. Berkontribusi dan membantu tim merealisasikan target yang dibidik. Utamanya di pentas liga. Dengan persiapan yang matang, Misbakus yakin klub kebanggaan Slemania dan BCS itu bisa berbicara banyak di kompetisi yang rencananya diputar bulan depan itu.

Terlebih, lanjutnya, persiapan tim kian maksimal karena Pelatih Dejan Antonic sangat tegas dan selektif. Chemistry antarpemain, baik di dalam maupun luar lapangan juga dinilai semakin kuat dan solid.

“Pemain yang tidak maksimal performanya akan langsung diparkir. Buat saya, ini baik untuk tim dan fair untuk para pemain,” ucapnya.

Bagi mantan jebolan SSB Al Rayyan, Surabaya, itu sepak bola adalah kebahagiaan. Namun, pandemi ini menyita begitu banyak kesempatan dirinya bermain si kulit bundar. Tak hanya kompetisi, saat ini untuk sekadar berlatih di lapangan saja sangat sulit. “Jujur sedih sekali. Semoga pandemi ini benar-benar lekas usai,” harap pemain penghobi travelling itu.

Setelah klub diliburkan, Misbakus memilih pulang ke Surabaya. Meski libur, dia tak lupa untuk selalu menjaga kebugaran dengan berlatih mandiri. Apalagi, tim pelatih sudah memberi program latihan secara virtual selama PPKM.

“Di sini (Surabaya, Red) saya merasa lebih bisa maksimal untuk latihan mandiri. Dan sejauh ini saya benar-benar stay at home saja dengan anak dan istri,” paparnya. Nah, di luar latihan virtual, biasanya Misbakus menambah porsi latihan sendiri. (ard/laz)

Main Bola