Sumarjono. Nama ini sangat akrab di telinga para pecinta PSIM Jogja. Sosok yang biasa disapa dengan sebutan Kapten Jon itu adalah salah seorang pemain terlama yang merumput bersama Laskar Mataram. Sumarjono memulai karir di PSIM tahun 1997 hingga 2011. Meski ia juga sempat satu musim bermain di tetangga PSIM, Persiba Bantul.

HERY KURNIAWAN, JOGJA, Radar Jogja

Kuat, lugas, tanpa kompromi dan tak kenal rasa takut adalah karakter yang melekat dalam diri Sumarjono ketika masih aktif bermain. Karaktertistik semacam itu memang sangat cocok untuk menopang penampilannya sebagai seorang bek tengah.

Kepada Radar Jogja, Sumarjono mengenang kembali kisahnya kala muda. Kala ia memulai karir di PSIM dan bagaimana karirnya bersama klub kebanggan Kota Gudeg itu. “Dulu awalnya saya masuk ke tim PSIM Putih yang akan ikut Piala HB X tahun 1997,” kenang Sumarjono, (4/9).

Tim PSIM Putih kala itu bisa dikatakan sebagai PSIM B. Setelah berjuang di tim tersebut, Sumarjono akhirnya bisa menembus tim utama. Suka duka ia lalui kala memperkuat Laskar Mataram. Marjono mengisahkan dahulu pemain sepak bola, apalagi yang berlaga di kasta kedua, kehidupannya tidak seperti saat ini.

Sumarjono mengenang bagaimana ia dan rekan-rekannya kerap telat menerima gaji. “Padahal dulu juga gajinya tidak seberapa, tapi sejak awal saya memang tidak pernah memikirkan gaji di PSIM. Saya fokus main saja,” ujarnya.

Karakter di atas itu terkadang membuat Sumarjono bermain meledak-ledak di lapangan. Bahkan pria asli Jogja itu dulu sering beradu argumen dengan wasit, bahkan juga pemain lawan. Salah satu kejadian yang paling terkenal adalah pada Divisi 1 2005, di mana Sumarjono mencekik leher wasit.

Hal itu dilakukan Sumarjono karena ia menganggap wasit yang memimpin saat itu sangat berpihak kepada tim lawan. “Ya, masa PSIM dikasih offside terus,” cerita Marjono sembari tertawa.

Kerja keras serta berbagai macam pengorbanan Sumarjono berbuah manis di tahun 2005. Kala itu, Marjono yang sudah menyandang ban kapten menjadi pilar penting PSIM yang berhasil menjadi juara kompetisi Divisi 1.

Di babak final yang berlangsung di Soreang, Kabupaten Bandung, Laskar Mataram menang 2-1. PSIM menjadi jawara divisi 1 dan memastikan diri promosi ke Divisi Utama atau saat ini seperti Liga 1.

KAPTEN: Marjono bersama skuad PSIM Jogja. (IG @PSIMPHOTO)

Menurut Sumarjono, keberhasilan menjadi juara Divisi 1 itu rasanya sangat luar biasa. Ditambah lagi sebelumnya PSIM sudah sangat lama puasa gelar di level nasional. “Itu momen yang penuh keindahan. Kalau bisa diulang, momen itu tentu luar biasa sekali,” katanya.

PSIM Jogja saat ini sedang dalam posisi yang bagus untuk bisa lolos ke Liga 1 musim depan. Selain itu banyak perubahan yang terjadi di klub tersebut, mulai dari manajemen yang baru dan banyaknya pemain berkualitas yang masuk.

Sumarjono pun memiliki harapan tinggi terhadap klub kebanggannya itu. “Ya, harapannya tentu Liga 1,” tegas pria yang kini menjadi kordinator keamanan di Pasar Kranggan, Jogja, ini.

Sumarjono menyebut saat ini banyak pemain muda yang punya potensi di DIJ, terutama yang bermain untuk PSIM. Namun, menurut sosok yang sempat identik dengan nomor punggung 5 ini, para pemain muda DIJ kurang mendapatkan kesempatan bermain di PSIM. “Saya yakin kalau ada kesempatan mereka bisa bersaing dengan pemain dari luar,” tandasnya.

Selain sibuk bekerja sebagai kordinator keamanan, Sumarjono dan keluarga juga memiliki satu usaha lain. Ia membuka warung penyetan yang diberi nama “Penyetan Juara” sejak enam bulan lalu. Warung penyetan ini ada di seberang Pasar Kranggan. (laz)

Main Bola