RADAR JOGJA – Tumpukan sampah yang berada di pinggir jalan Dusun Dampit, Desa Mertoyudan meresahkan warga. Bahkan mengganggu kendaraan yang hendak melintas. Padahal, di lokasi itu sudah ada larangan membuang sampah. Alih-alih bersih dari sampah, warga justru abai terhadap larangan itu dan tetap membuangnya di sana.

Sampah itu berada tepat di pinggir Jalan Salakan-Dampit. Sebenarnya, lokasi itu dulunya memang tempat pembuangan sampah (TPS). Namun, karena sudah menjadi milik salah satu pengembang, sehingga lokasi tersebut ditutup dan dipagar. Sehingga warga tetap membuangnya di depan pagar.

Seorang warga Hari Toto, 47 menuturkan, TPS itu sudah ditutup untuk umum sekitar dua bulan yang lalu. Tapi, warga memang terbiasa membuang di sana. “Memang tempat ini tadinya TPS, tapi sekarang milik pengembang perumahan. Sehingga (TPS) itu khusus untuk warga perumahan dan warga sekitar, tapi masih saja (warga luar) buang di situ,” ujarnya saat ditemui, Senin (23/1).

Penumpukan sampah itu sudah ada sejak pertama kali ditutup. Namun, lanjut dia, sampah tersebut pernah dibersihkan dan diangkut oleh mobil sampah. Bukannya berkurang, justru semakin bertambah banyak. Terlebih, tidak ada yang bertanggungjawab mengurus sampah-sampah itu.

Toto juga kerap melihat warga yang lewat, lalu melempar sampah itu di depan pagar. Dia mengaku sudah lelah dan bosan menegur mereka. Terkadang, dia juga membersihkan sampah-sampah itu ketika berada tepat di tengah jalan. Selain mengganggu, juga membahayakan kendaraan yang melintas.

Lokasi pembuangan tersebut, persis berada di tanjakan. Saat hujan, jalanan menjadi licin dan menimbulkan bau busuk akibat sampah itu. Mobil maupun truk yang melintas, harus satu per satu agar bisa lewat dan tidak mengenai tumpukan sampah tersebut.

Dia menambahkan, lokasi itu memang tidak ada penjaganya. Sehingga warga seenaknya membuang sampah di sana. “Kasihan pemulung di sana. Ada tiga orang. Pendapatannya dari mengumpulkan (sampah) dan dijual. Tidak digaji sama pengembangnya. Padahal, seharusnya itu bukan tugas mereka,” paparnya.
Mereka kerap membersihkan sampah yang berada di luar pagar. Namun, kesadaran warga untuk membuang sampah, semakin menipis. Warga tidak peduli dengan sampahnya sendiri. Akhirnya, dibiarkan oleh ketiga pemulung itu dan menumpuk di pinggir jalan.

Toto mengatakan, setiap harinya, ada motor gerobak yang mengangkut sampah dari salah satu perumahan. Kemudian, dimasukkan ke dalam TPS. “Saya dengar, pemerintah desa sudah rembukan sama pengembang perumahan, itu (TPS) sekarang milik pribadi. Nanti biayanya dibebankan kepada siapa dan lain-lain,” bebernya.

Dia berharap, warga semakin sadar diri untuk mengurus sampah masing-masing. Dengan begitu, tidak dibuang sembarangan di pinggir jalan. Dia juga berharap, akan ada solusi dari pemerintah desa. “Pihak terkait yang punya lahan ini, mungkin bisa menempatkan orang untuk menjaga,” imbuhnya.

Sementara itu, seorang pemulung Sugeng Riyadi, 38 menyebut, tumpukan sampah di luar pagar itu sudah ada sejak satu bulan yang lalu. Sebenarnya, TPS itu bukan untuk warga secara umum. Lantaran milik pengembang salah satu perumahan. Tapi, warga sekitar juga ikut membuang sampah di sana. “Sini nggak dapat apa-apa, tiap hari disuruh masukin (sampah), nggak mau to,” tegasnya.

Sebelumnya, Sugeng memang setiap hari mengambil dan membersihkan sampah di luar pagar. Tapi, lama-kelamaan, dia lelah dan akhirnya dibiarkan. Dia bersama dua orang lainnya, memilah sampah di sana mulai pukul 08.00 – 13.00. Setelah itu, pagar akan ditutup kembali. Dia juga masih memaklumi ketika ada warga yang ikut membuang sampah di area dalam.

Kepala Desa Mertoyudan Eko Sungkono menuturkan, lokasi tersebut milik salah satu pengembang. Warga sekitar maupun luar desa, kerap membuangnya di sana. Pemerintah desa sendiri belum mampu mengelola sampah. “Yang membuang sampah itu warga tidak bertanggungjawab,” sebutnya.
Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magelang Sarifudin menjelaskan, semestinya pihak pengembang menyediakan TPS.

Karena sesuai dengan aturan yang berlaku, setiap pengembang wajib menyediakan sarana prasarana, termasuk fasilitas bangunan sampah.
Dia menyebut, telah memfasilitasi antara pengembang, warga, dan pemerintah desa. Bahkan, sudah ada berita acara kesepakatan. Yang mana lokasi tersebut sementara ini ditutup terlebih dahulu, kecuali dari warga perumahan.

Pemerintah desa siap menyediakan lahan untuk fasilitas pengelolaan sampah.
Nantinya. Lanjut dia, akan dibangun TPS oleh pengembang. Namun, hingga saat ini, Sarifudin belum mengetahui apakah desa sudah menyiapkan lahan atau belum. “Saya belum tahu ya (sudah menyiapkan lahan TPS atau belum). Kami pun sudah memfasilitasi,” ungkapnya. (aya/bah)

Magelang