RADAR JOGJA – Setelah dua tahun ditunda lantaran pandemi Covid-19, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tahun 2022 Kota Magelang kembali digelar pada 21-22 Juni 2022. Lomba yang diadakan di Pendopo Pengabdian dan masjid di sekitarnya itu diikuti oleh 227 pesera, baik kategori pelajar SD, SMP, dan SMA maupun kategori masyarakat umum.

Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Kota Magelang Hadi Sutopo menyebut, perlombaan ini terdiri dari tilawah dan tartil putra-putri untuk kategori pelajar. Sedangkan kategori umum terdiri dari lomba tilawah dan tahfidz Quran 1 juz, 5 juz, dan 10 juz putra-putri. Peserta berjumlah 142 orang untuk kategori pelajar SD, SMP, dan SMA sementara 85 orang untuk kategori masyarakat umum.

Dia menambahkan, hari pertama ini khusus untuk kategori pelajar dan hari kedua untuk umum. Ke depan, dia berharap, akan lebih banyak peserta yang ikut dan berjenjang dari perwakilan sekolah maupun di kelurahan sampai kecamatan. “Agar bisa mewakili dari TPQ atau madrasah diniyyah dari tiap tingkatan wilayah,” kata Hadi, saat pembukaan MTQ di Pendopo Pengabdian Kota Magelang, Selasa (21/6).

Para pemenang MTQ tahun ini selanjutnya akan mewakili Kota Magelang untuk maju ke MTQ tingkat provinsi. Selain itu, mereka akan disandingkan dengan para pemenang MTQ dua tahun sebelumnya selama usianya masih mencukupi. Untuk nantinya bisa mewakili Kota Magelang dalam pelaksanaan MTQ kategori pelajar di tingkat provinsi.

“Mudah-mudahan MTQ tahun ini bisa terselenggara dengan lancar dan melahirkan calon-calon dari Kota Magelang yang bisa berprestasi di tingkat provinsi,” harap Hadi.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Magelang, M Mansyur menuturkan melalui MTQ ini diharapkan para peserta dapat berkompetisi dengan baik dan memperoleh pengetahuan. Ini menjadi satu upaya untuk menciptakan generasi yang memiliki keselarasan, keimanan, dan intelektual. Yang terpenting, kata dia, seluruh pelajar, khususnya yang beragama Islam, dapat menghiasi diri dengan akhlaqul karimah.

Tidak hanya itu, dia berharap agar generasi pelajar mempunyai otak Jerman dan hati Makkah. Sehingga selaras, serasi, seimbang, dan harmonis antara intelektual juga emosi batiniah. “Batinnya betul-betul batin disinari keimanan yang kuat, namun intelektualnya juga cerdas. Agar ke depan bisa berguna bagi masyarakat, bangsa, negara, dan agama,” paparnya.

Menurutnya, peningkatan kualitas kehidupan beragama sangat membutuhkan perhatian secara khusus. Hal ini mengingat agama mempunyai kedudukan dan peran yang strategis sebagai landasan spiritual, etika, dan moral dalam bermasyarakat, bangsa, serta negara. (aya/bah)

Magelang