RADAR JOGJA – Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menyatakan, tak bisa membatasi jumlah pengunjung ke Candi Borobudur. Hanya sekadar saran. Pengambil keputusan di pemerintah Indonesia.

Director UNESCO Office Jakarta Mohamed Djelid menilai, rencana kunjungan naik ke struktur Candi Borobudur sebanyak 1.200 orang per hari bukan sebagai sekadar pembatasan. Melainkan sebagai bentuk manajemen situs warisan dunia.

Saat Candi Borobudur ditetapkan sebagai warisan dunia, UNESCO giat melakukan campaign atau kampanye terkait pengawasan dan manajemen kunjungan. Sebenarnya, kata dia, UNESCO tidak mempunyai kapasitas maupun intervensi dari masing-masing situs soal pembatasan kunjungan. Semua itu merupakan otoritas Pemerintah Indonesia.

Dia menuturkan, UNESCO berperan dalam memberikan advice atau saran tentang pengelolaan situs tersebut. UNESCO sebagai partner pemerintah tentunya membantu karena situs ini bukan hanya milik Indonesia, tapi juga milik seluruh dunia.

Tidak hanya di Candi Borobudur saja, dia melihat, situs-situs lain juga terlalu banyak wisatawan yang datang. Manajemen situs ini menjadi satu cara pandang yang berbeda untuk mengatur jumlah pengunjung yang datang. “Kami tidak mengatakan untuk mengurangi (jumlah pengunjung), tapi mengatur dan mengawasi bagaimana pelaksanaannya,” paparnya di kantor BKB, Jumat (17/6).

UNESCO justru mengundang masyarakat untuk datang dan menikmati kemegahan Candi Borobudur. Namun, ketika melihat tingkat kunjungan yang naik ke struktur candi, hal itu akan membuat kondisi situs tidak baik.
Menurutnya, membuat pengaturan terkait hal itu dinilai penting. Bukan mengurangi atau membuat pembatasan. Tapi, bagaimana mengatur situs dan semua orang yang datang bisa menikmatinya. “Kami tidak pernah berbicara tentang pembatasan, kami berbicara tentang manajemen situs,” tegasnya.

Dia menambahkan, kendati hal ini tidak mudah, tapi akan mendatangkan keuntungan untuk Indonesia dan komunitas sekitar. Djelid pun menegaskan, UNESCO hanya memberikan masukan untuk membantu, bukan untuk mengambil keputusan (intervensi) tentang situs. Hal itu sepenuhnya menjadi otoritas negara Indonesia.

Sejauh ini, berdasarkan rekomendasi UNESCO terkait manajemen kunjungan di Zona 2 pada 2013 dan 2016, Djelid menilai, sudah berjalan dengan baik. Namun, masih ada yang perlu ditingkatkan dan hal ini masih dalam proses. Dia juga mengatakan, kekurangan-kekurangan yang terjadi wajar dan dalam batas normal. Banyak pula masukan-masukan yang diberikan dari UNESCO.

Djelid juga menyampaikan pesan, Indonesia harus melindungi Candi Borobudur. Situs ini mempunyai nilai sejarah dan tidak untuk tujuan komersial, tapi lebih pada aspek budaya dan sejarah. Dia menambahkan, semua orang memang harus memberikan perhatian bagaimana melindunginya.

Tidak hanya itu, keberadaan candi haruslah memberikan keuntungan bagi komunitas sekitarnya. Menurutnya, komunitas menjadi bagian dari situs dan menjadi bagian dari monumen. “Mereka yang hidup, akan menghidupi monumen,” ujarnya.

Selama beberapa tahun terakhir, UNESCO juga berusaha menciptakan keuntungan bagi komunitas. Semua elemen diminta untuk melakukan sesuatu yang lebih dan menjadi lebih atraktif agar pengunjung dapat menikmati kawasan Candi Borobudur. Tidak hanya fokus pada situs itu sendiri.”Benar, situs ini adalah bagian penting dan harus dilindungi, tapi kami juga harus memikirkan bagaimana membantu mereka melalui proyek entrepreneur. Ini yang perlu kita lakukan bersama dan terus tingkatkan,” imbuhnya.

UNESCO juga akan terus meningkatkan proyek bersama masyarakat. Termasuk membantu para pemuda sebagai entrepreneur. Selama ini, UNESCO melakukan diskusi dengan Kemendikbud Ristek untuk mengidentifikasi prioritas yang dibutuhkan masyarakat.

Aktivitas yang didukung termasuk pengenalan konsep pariwisata berkelanjutan untuk 50 pemilik homestay di Kecamatan Borobudur. Serta dukungan teknis kepada para pemandu muda, dan pengelola tour wisata di Kawasan Borobudur, Prambanan, dan DIJ. (aya/pra)

Magelang