RADAR JOGJA – Kemegahan Candi Borobudur membuat Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier beserta rombongan melakukan kunjungan ke Kompleks Candi Borobudur, Jumat (17/6). Kunjungan diawali dengan peninjauan Laboratorium Fisik untuk melihat kegiatan kolaborasi antara Indonesia dan Jerman di kantor Balai Konservasi Borobudur (BKB).

Berdasarkan pantauan, Presiden Jerman dan rombongan tiba di BKB pukul 09.45. Steinmeier bersama rombongan naik melewati relief Karmawibhangga menuju Arupadhatu dan mendapat penjelasan sejarah candi dari pegawai BKB.

Ketua Pokja Kajian dan Laboratorium BKB Nahar Cahyandaru menyebut, saat naik ke struktur candi, Steinmeier mempertanyakan soal adanya endapan putih di dinding bebatuan. Nahar pun menjelaskan bahwa endapan putih itu secara kimiawi terjadi dalam bebatuan. Ada garam yang keluar dan membentuk endapan di permukaan batu.

Untuk permasalahan rembesan semen di beberapa lantai candi pascapemugaran tahun 1973, kata dia, tidak berkorelasi langsung di pagar-pagar langkan. “Yang penting bagaimana saluran di bawah (bebatuan) dijaga agar berjalan dengan baik. Tidak ada yang melimpah di lantai,” jelasnya.

Selain adanya endapan putih dan rembesan semen, keausan juga menjadi satu permasalahan di Candi Borobudur. Solusi untuk mengurangi keausan dengan memakai sandal upanat. Nahar memaparkan, saat hendak naik ke candi, Steinmeier beserta rombongan juga diminta untuk memakai sandal upanat. Namun, BKB juga tidak memaksanya.

Dia melanjutkan, penggunaan upanat ini memang masih tahap sosialisasi dan pengenalan kepada publik. Ketika prosedur operasi standar ditetapkan, nantinya kunjungan kenegaraan juga diwajibkan memakai sandal upanat. “Bahwa keuasan yang menjadi salah satu permasalahan di Candi Borobudur. Dan beliau mengatakan ini permasalahan serius,” bebernya.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Ristek Hilmar Farid menuturkan, kunjungan ini dimaksudkan untuk melihat fasilitas laboratorium fisik milik BKB serta meninjau ruangan Arsip Memory of the World (MOW). Yang mana Pemerintah Jerman berperan dalam bantuan tenaga ahli yang memberikan masukan pengelolaan arsip pemugaran Candi Borobudur hingga akhirnya mendapatkan status sebagai Ingatan Dunia.

Pemerintah Jerman telah menanggapi seruan dukungan UNESCO ketika Gunung Merapi meletus pada 2010 dengan lapisan tebal abu vulkanik korosif yang mengancam pelestarian monumen Warisan Dunia abad ke-9 itu. Sepanjang 2011 dan 2017, UNESCO Office Jakarta telah memfasilitasi serangkaian dukungan pelatihan dan pendampingan teknis kepada BKB.

Pemerintah Jerman juga telah memberikan bantuan peralatan untuk membuat mortar dan monitoring drainase Candi Borobudur. Untuk itu, Steinmeier secara langsung melihat kebermanfaatan bantuan yang telah diberikan. “Beliau ke sini karena ada kerja sama di masa lalu yang cukup baik. Ternyata setelah bertahun-tahun, (peralatan laboratorium) masih digunakan dan kondisinya baik,” paparnya.

Lebih lanjut, kata Hilmar, Steinmeier mengapresiasi upaya BKB dalam menjaga kelestarian candi. Seperti penggunaan sandal upanat untuk naik ke struktur candi guna mencegah kerusakan bebatuan. Di sisi lain, Steinmeier juga terkesan dengan restorasi atau pemugaran Candi Borobudur selama 10 tahun oleh Pemerintah Indonesia.

Bahkan, Pemerintah Jerman juga ikut andil dalam pemugaran tersebut. Dengan memberikan bantuan berupa teknologi komputer pada 1973 untuk membongkar bebatuan candi. Diperkuat struktur batunya hingga kemudian disusun kembali seperti bentuk semula.

Hilmar menambahkan, bakal ada rencana untuk membangun laboratorium yang lebih lengkap guna keperluan konservasi. Sehingga dia juga berdiskusi soal teknologi dengan Presiden Jerman.

Presiden Jerman dan rombongan, kata dia, merupakan kunjungan tamu kenegaraan pertama pasca pandemi. Dia berharap, akan membuka lembaran baru pada kunjungan kenegaraan, pelestarian candi, serta kick off oleh Pemerintah Jerman. “Nanti akan menjadi tolok ukur, sekaligus mengirim pesan baik kepada masyarakat yang berkunjung ke sini,” harapnya. (aya/pra)

Magelang