RADAR JOGJA – Kuliner khas masyarakat Tionghoa bernama bakcang ini kerap ditemui saat perayaan hari-hari besar keagamaan, seperti hari Waisak. Di kawasan Candi Mendut, Kabupaten Magelang pun juga ditemukan Bakcang, tepatnya di halaman candi.

Budi Muljono, 49, yang kesehariannya berjualan bakcang, mengaku datang dari Surabaya, Jawa Timur. Dia memang sengaja datang ke Magelang karena mendapat informasi dari temannya bahwa ada perayaan Waisak.

Olahan ini terbuat dari ketan yang dicampur dengan daging babi dan bumbu-bumbu lainnya. Dia menyebut, harga per bungkus bakcang berkisar antara Rp 25 ribu untuk babi biasa hingga Rp 26 ribu untuk babi telur.

Budi menyebut, ada tujuh macam bakcang yang dijualnya, yakni babi biasa, babi telur, babi spesial, ayam biasa, ayam telur, ayam biasa, dan vegetarian. Olahan ini, kata dia, bisa dimakan secara langsung maupun digunakan sebagai pelengkap nasi.

Dia melanjutkan, bakcang mampu bertahan hingga tiga hari. “Tadi malam datang bawa 200 biji, ini tinggal 50 sampai 60-an. Biasanya habis kalau momentum seperti ini di Surabaya,” ujarnya saat ditemui, Minggu (15/5).

Sedangkan bakcang yang paling laris, yakni babi biasa, babi telur, dan spesial. Ia mengaku baru pertama kali berjualan di Magelang saat perayaan Waisak. Di Surabaya, biasanya Budi berjualan di klenteng-klenteng setiap ada acara keagamaan. “Jualan di Surabaya masuk supermarket, kalau ke klenteng pas ada acara saja, datang ke sana,” tandasnya. (aya/bah)

Magelang