RADAR JOGJA – Rangkaian perayaan Waisak 2566 BE atau tahun 2022 bakal dipusatkan di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang. Perayaan kali ini kembali berlangsung usai dua tahun ditiadakan lantaran pandemi Covid-19. Tapi tetap ada pembatasan. Hanya biksu yang diperbolehkan naik ke candi.

Pamong Budaya Ahli Madya Balai Konservasi Borobudur Yudi Suhartono menuturkan, pandemi yang mulai landai membuat perayaan Waisak kembali digelar. “Kami adakan (perayaan Waisak,) karena sudah ada MoU antar menteri dengan kesepakatan,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Selasa (10/5).

Tahun ini, perayaan Waisak 2566 BE mengusung tema ‘jalan kebijaksanaan menuju kebahagiaan sejati’. Kegiatan ini dimulai pada Sabtu (7/5) dengan menggelar Karya Bakti Taman Makam Pahlawan (TMP) di seluruh Indonesia.

Sedangkan pada Jumat (13/5), akan digelar bakti sosial di Kaloran, Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Semarang. Pada Sabtu (14/5), akan menggelar bakti sosial sembako dan pengambilan api abadi Mrapen kemudian disemayamkan di Candi Mendut.

Sementara itu, pada Minggu (15/5), akan dilakukan pengambilan air suci dari Umbul Jumprit dan disemayamkan di Candi Mendut. Yudi menjelaskan, perayaan Waisak dilakukan pada Senin (16/5) dengan prosesi jalan kaki dari Candi Mendut ke Candi Borobudur.

Sedangkan detik-detik perayaan Waisak digelar pada Senin (16/5) di Lapangan Kenari tepat pada pukul 11.13.46. Setelah itu, dilangsungkan Dharmasanti pada pukul 19.00 di Lapangan Lumbini.

Saat perayaan berlangsung, Yudi mengatakan, wisatawan masih diperbolehkan naik ke zona 1 atau Lapangan Kenari. Namun, dengan beberapa pembatasan. Nantinya, kata dia, akan ada petugas yang mengarahkan. “Kemungkinan masih boleh naik. Nanti akan kami koordinasikan lagi dengan PT TWC Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko terkait dengan kebijakan teknisnya,” paparnya.

Untuk peserta, Yudi menyebut, ada 1.200 orang yang ikut dalam perayaan tersebut. Namun, untuk jumlah pastinya, masih akan dikoordinasikan kembali. “Nanti yang disepakati berapa, akan dirapatkan kembali,” sambungnya.

Yudi menyebut, hanya ada beberapa biksu atau tokoh agama yang diperbolehkan untuk naik Monumen Candi Borobudur. Tidak semua umat Buddha ikut naik dan tetap berada di Lapangan Kenari. “Kemarin tidak ada pembahasan untuk naik, tapi nanti kalau misal ada, kami fasilitasi dan batasi, untuk para tokoh agama,” kata dia. (aya/pra)

Magelang