RADAR JOGJA – Tahap pembangunan proyek Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) tersendat lantaran berada di kawasan Candi Borobudur. Membutuhkan Heritage Impact Assesment (HIA).

Hal itu karena MAJT terletak pada sub kawasan pelestarian 2 atau sub kawasan penyangga cagar budaya warisan dunia. Serta merupakan kawasan pengamanan sebaran situs yang belum tergali.

Kepala Bidang Penataan Ruang dan Pertanahan DPUPR Kabupaten Magelang Adang Atfan Ludhantono menuturkan, seharusnya target pada 2021 sudah masuk tahap groundbreaking. Namun, setelah dikonsultasikan dengan Balai Konservasi Borobudur (BKB), ternyata belum bisa diproses.

Dia menambahkan, ketika ada aktivitas di sub kawasan pelestarian 2 dan berdampak besar bagi kawasan tersebut, akan ada analisis arkeologi atau HIA. “Ini harus disampaikan kepada UNESCO. Dan dari Dinas PU Bina Marga cipta Karya sedang menginisiasi penyusunan HIA,” ujarnya, kemarin.

Jadi, kata Adang, ketika dokumen-dokumen HIA rampung, nantinya proyek MAJT mulai bisa memasuki proses pembangunan fisik. Padahal, pengadaan lahan untuk MAJT telah selesai, begitu pula dengan pembayaran ganti kerugian pada awal 2022.

Seharusnya, warga yang terdampak pembangunan MAJT mulai pindah lantaran ganti kerugian telah diterima. Namun, kata Adang, selama badan pemeriksa keuangan (BPK) belum menindaklanjuti hal tersebut, warga masih diperbolehkan menempati lahannya.

Itu pun waktunya tidak dapat diprediksi karena yang memiliki kewenangan adalah dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. “Sebenarnya positif bagi mereka, selagi masih mempersiapkan hunian baru, mereka masih bisa menempatinya,” jelas Adang. (aya/pra)

Magelang