RADAR JOGJA – Masyarakat etnis Tionghoa di Kota Magelang menggelar prosesi mencuci Kiem Sien atau patung dewa-dewi, rupang, altar, dan peralatan lainnya di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Liong Hok Bio, Magelang Rabu (26/1). Kegiatan dalam upaya menyambut Hari Raya Imlek 2573.

Sebelum prosesi pembersihan Kiem Sin, para umat menggelar sembahyang punggahan Toa Pekong atau Sang An. Proses pencucian Kiem Sin tersebut merupakan permulaan dari rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan menjelang perayan inti yakni Sembahyang Cap Go Meh pada Februari mendatang.

TRADISI: Prosesi cuci Kiem Sin dilaksanakan usai menggelar Sembahyang Punggahan Toa Pekong atau Sang An pada Rabu (26/1).(NAILA NIHAYAH/RADAR JOGJA)

Ketua Yayasan Tri Bakti Kota Magelang Paul Candra Wesi Aji menjelaskan, prosesi cuci Kiem Sin ini bertujuan untuk membersihkan para patung dan peralatan lain yang sudah dilakukan sejak ratusan ribu tahun lalu. “Pembersihan ini dilakukan satu tahun sekali menjelang imlek,” katanya di sela-sela pembersihan Kiem Sin, Rabu (26/1).

Candra mengatakan, pembersihan tidak bisa dilakukan secara sembarang dan sewaktu-waktu. Lantaran sudah menjadi kepercayaan etnis Tionghoa untuk membersihkan Kiem Sin ketika para dewa naik atau pada prosesi sembahyang Toa Pekong naik atau Sang An.

Candra menjelaskan, sembahyang tersebut dilakukan untuk melaporkan kepada para dewa, khususnya Dewa Cau Kun Kong tentang amal baik dan buruk para umat selama setahun perjalanan. Para umat berharap, pada sembahyang tersebut amal perbuatan yang baik-baik selama satu tahun ini yang dilaporkan melalui dewa kepada Tuhan Yang Maha Esa. “Setiap tahun Dewa Dapur akan naik ke kahyangan dan melapor kepada kaisar langit tentang semua catatan perilaku manusia,” ujarnya.

Sementara itu, pembersihan 13 Kiem Sin tersebut tidak diperkenankan menggunakan air. Melainkan hanya menggunakan kuas dan kain perca yang halus. Tujuanya untuk mencegah kerusakan pada patung tersebut. Pasalnya, kini sebagian besar patung dewa terbuat dari kayu.

Penggunaan dua benda tersebut, Candra menyebutkan, sudah dilakukan sejak 2018. Setelah TITD Liong Hok Bio difungsikan kembali usai terbakar dan hangus pada 2014 silam. “Sebenarnya rangkaian pencucian ini sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Namun, dulu memang pakai air bunga. Sekarang tidak,” jelasnya.

Untuk itu, pembersihan semua debu dilakukan hanya menggunakan kuas dan kain. Menurut Candra, jika menggunakan air, nantinya patung tersebut akan lapuk dan keropos.

Adapun pada perayaan Imlek tahun 2022 ini bershio macan emas. Para etnis Tionghoa mempercayai shio tersebut memberi dampak baik bagi perekonomian dan mendatangkan keberkahan. “Semoga perekonomian berjalan lancar, pandemi segera berakhir, dan Indonesia lebih jaya,” harapnya. (cr1/bah)

Magelang