RADAR JOGJA – Desa Sambak, Kecamatan Kajoran merupakan sentra perajin tahu. Banyak industri tahu yang hingga saat ini masih aktif beroperasi. Sehingga, banyak pula limbah tahu yang dapat mencemari lingkungan.

“Di dekat rumah ada pabrik tahu, ada saluran irigasi juga. Sehingga muncul pemikiran ingin mengolah limbah tahu agar lingkungan bersih,” pungkas Usman pada Senin (25/10).

Melihat fenomena tersebut, Usman, warga Dusun Miriombo, Desa Sambak ikut menyusun strategi untuk mengurangi potensi adanya pencemaran lingkungan. Dulunya, Usman bekerja di sebuah pabrik pengolahan limbah di Jogja. Tidak heran jika jiwa kesadaran untuk melestarikan lingkungan ternanam kuat di benaknya. “Menjaga alam tidak hanya untuk diri kita saja, tapi untuk anak cucu ke depannya,” tutur Usman.

Ia mengaku sudah hampir tiga tahun bekerja di Jogja. Kemudian, ia berpikir untuk kembali ke kampung halamannya. Ikut berpartisipasi menangani limbah yang ada di desanya. Pada 2007, ia berinisiatif untuk mengolah limbah tahu menjadi biogas agar dapat dimanfaatkan oleh warga sekitar. Ia pun membuat biodigester di rumahnya. Karena tidak dirawat cukup lama, akhirnya rusak.

Pada 2014 lalu, ada konflik pabrik tahu di tempat tinggalnya, Dusun Sindon. Akhirnya, ia bersama para perangkat desa mengajukan proposal untuk pengelolaan limbah tahu. Selain tahu, ia juga terbiasa membuat biogas dari kotoran ternak dan unggas serta kotoran manusia. “Tapi, kami fokus untuk menyelesaikan permasalahan limbah tahu terlebih dahulu,” ujar Usman.

Karena terbatas mengenai anggaran, Usman mengaku tidak bisa cepat dalam menangani limbah tahu di desanya. Dilakukan secara bertahap. Usman juga sering mendampingi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk mengolah limbah di beberapa kota, seperti Irian Jaya, Sumatera, Kalimantan, Bali, dan masih banyak lagi. (cr1/bah)

Magelang