RADAR JOGJA – Desa Sambak, Kecamatan Kajoran meraih trofi penghargaan Proklim Lestari 2021. Ini merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan kepada desa. Tahun 2017 lalu, Desa Sambak juga meraih penghargaan Proklim Utama dari KLHK. Kendati demikian, desa tersebut terus meningkatkan upaya mitigasi dan pencegahan pemanasan global dengan membina 14 desa lainnya.

Sebanyak 12 dari desa tersebut masuk kategori proklim madya. Sehingga tidak heran jika Desa Sambak dianugerahi penghargaan Proklim Lestari. Syarat utama untuk mendapat penghargaan Proklim Lestari adalah dengan membina minimal sepuluh desa. “Tapi, dari dinas lingkungan hidup (DLH) menyarankan agar lebih dari sepuluh desa. Iya kalau sepuluh desa itu masuk, kalau tidak, nanti terganjal untuk mendapatkan Proklim Lestari,” jelas Dahlan saat ditemui di Kantor Kepala Desa Sambak, Kecamatan Kajoran pada Senin (25/10).

Sejak 2008, Desa Sambak banyak memiliki program desa yang cukup berkembang. Hingga 2017, Dahlan mengaku diminta untuk mengisi data-data mengenai kegiatan yang dilakukan oleh Desa Sambak. Sampai akhirnya diundang oleh KLHK untuk menerima penghargaan Proklim Utama. “Dari situlah, saya baru sadar kalau kegiatan kami merupakan bagian dari proklim,” tuturnya.

Sejak itu, Desa Sambak semakin aktif dalam merealisasikan beberapa program yang telah direncanakan sebelumnya. Tidak membuat program baru. Programnya antara lain budidaya kopi, pengelolaan limbah tahu, pemanfaatan pekarangan sehingga terbentuk kelompok wanita tani (KWT), pengelolaan sampah, penyelamatan sumber mata air dengan menanam pohon aren, dan program Keaksaraan Fungsional (KF) yang di dalamnya terdapat pengentasan buta aksara.

Kopi yang dikembangkan oleh warga Desa Sambak pun telah memiliki brand sendiri. Dikenal dengan kopi Potorono. Budidaya kopi tersebut terus didampingi oleh Dinas Perkebunan Kabupaten Magelang dan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Tengah.

Di sisi lain, warga Desa Sambak notabene merupakan perajin tahu. Sehingga warga sekitar banyak yang mengeluh lantaran limbah tahu tersebut mencemari lingkungan. Akibatnya, ikan banyak yang mati, sawah juga longsor dan kerusakan tanah. “Akhirnya, 2014 saya mencoba membuat proposal tentang pengelolaan limbah tahu. Baru terealisasi 2015 akhir,” ujar Dahlan.

Dahlan dan timnya berhasil mengolah gas dari limbah tahu untuk dijadikan biogas. Setidaknya ada 45 titik yang terdiri dari 75 keluarga menggunakan biogas. Dahlan mengatakan, targetnya hingga 100 keluarga. “Mulai tahun depan, kami juga akan mendampingi tiga sekolah. SD Negeri Sambak, MI Al-Iman Sambak, dan SMP Muhammadiyah Sambak untuk beralih menggunakan biogas,” tambahnya.

Dahlan terus mendampingi desa-desa yang ada di Kecamatan Kajoran maupun Kecamatan lain dengan mengajak untuk menyelamatkan bumi. Misalnya dengan kegiatan mitigasi dan adaptasi. Ia selalu berkomitmen untuk mewujudkan Kecamatan Kajoran yang terdiri dari 29 desa, menjadi kecamatan proklim.

Selain itu, Desa Sambak juga membuat pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Hal ini disebabkan pelayanan masyarakat semakin banyak dan kompleks. Tidak bisa hanya mengandalkan PLN. “Penggunaan PLN akan menimbulkan emisi batubara di bumi semakin meningkat,” pungkas Dahlan.

Dahlan juga mengaku menjadi provokator untuk desa-desa lain agar beralih ke PLTS. “Tapi, provokatornya bertujuan baik,” katanya.

Dahlan berharap, dengan penghargaan Lestari yang diperoleh dapat dijadikan pedoman untuk membuat Desa Sambak menjadi desa yang lestari. Bebas dari polusi udara dan pencemaran lingkungan. (cr1/bah)

Magelang