RADAR JOGJA – Desa Giyanti, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang merupakan sentra tanaman hias dan buah durian. Sepanjang jalan, banyak para pedagang yang membuka kios di depan rumah untuk menjajakan duriannya. Termasuk keluarga Tohirin.

Naila Nihayah, Magelang, Radar Jogja

Saat memasuki gapura Desa Giyanti, para pengemudi atau pejalan kaki akan disuguhi aroma khas buah durian. Musim durian kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Sebab tahun sebelumnya, panen durian menjadi duka bagi petani akibat pandemi Covid-19.

Istri Tohirin, Narti mengaku, panen tahun ini bisa untuk menutupi hasil panen tahun sebelumnya. Awal pandemi, perkecamatan hanya bisa memanen seperempat persen dari biasanya. ”Sekarang Alhamdulillah sudah empat kali lipatnya, bahkan lebih,” tuturnya di sela-sela melayani pelanggan pada Jumat (15/10).

Modal yang dikeluarkan tak kalah besar. Tohirin dan Narti harus merelakan tiga unit mobil dan empat buah sapi untuk dijual. Tidak hanya itu, tiga unit motor digadaikan. Cara itu mereka tempuh agar bisa menebas seluruh buah durian. Tak tanggung-tanggung, kocek yang harus dikeluarkan hingga Rp 350 juta selama musim durian ini.

Mereka berani menebas dengan harga yang fantastis karena tahun lalu hanya bisa menebas sedikit. Pun dengan pertimbangan kondisinya sudah mulai stabil. Sehingga banyak pembeli dari berbagai daerah yang mengunjungi kediamannya. ”Pesanan pun mulai berdatangan dari berbagai kalangan,” terangnya.

Ketika belum memasuki musim durian, Narti sehari-hari menjual sayur keliling untuk menutupi kebutuhan rumah tangga. Namun, jika waktunya panen, ia sementara berhenti. Memilih berjualan durian di kediamannya.
Durian yang dijual beraneka jenis. Mulai dari durian ketan, mentega, susu, madu, hingga candy. Durian candy termasuk varietas unggulan di Kecamatan Candimulyo. Candy memiliki rasa manis legit yang khas menyerupai manis permen. Ketika dilumat, daging kuning pekatnya memliki tekstur agak kering walaupun berserat. Bentuknya lonjong dengan duri tinggi besar dan runcing. Harganya mulai Rp 50.000 untuk ukuran kecil hingga Rp 250.000 untuk durian besar. Untuk durian jenis lain, rata-rata Rp 40.000 – Rp 60.000 tergantung ukuran dan jenisnya.

Tohirin, memiliki setidaknya empat lahan pohon durian yang ditebas. Ada lebih dari 100 pohon yang tersebar di beberapa lokasi tersebut. “Satu pohon biasanya menghasilkan 850 buah, paling sedikit 100 buah,” jelas Tohirin.
Setiap musim panen, Tohirin bisa mendapat kurang lebih 25.000 buah. Ketika ramai pengunjung, ia bisa panen antara 500 hingga 1.000 buah perharinya. “Kadang ada yang sampai nunggu dipanen dari pohonnya,” tuturnya.

Untuk mendapatkan durian yang matang, bisa dibuktikan dengan menggunakan pisau kemudian ditepuk-tepuk pada duriannya. Jika berbunyi seperti orang kembung, berarti buahnya matang. Sebaliknya, jika ditepuk-tepuk berbunyi ‘tektektek’, menandakan buahnya belum matang. Untuk membuktikan manis atau tidaknya pun, dapat dicium dari aroma yang keluar dari buah durian. (bah)

Magelang