RADAR JOGJA – Pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT) mulai diberlakukan sejak PPKM di Kota Magelang berada pada level 3. Hingga kini, banyak sekolah yang mulai menggelar PTMT. Salah satunya di SMP N 2 Magelang.

PTMT yang diterapkan juga berdasarkan keputusan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang. Berbagai persiapan telah dilakukan. Mulai dari pengadaan tempat cuci tangan di depan kelas dan ruangan, thermo gun, hand sanitizer, serta perangkat atau pedoman untuk pelaksanaan PTMT di SMP N 2 Magelang.

Pembelajaran ini berlangsung dari pukul 07.30 hingga 09.30 dengan empat mata pelajaran setiap harinya. “Tiap mapel dialokasikan menjadi 30 menit,” jelas Ketua Tim Gugus Tugas Kewaspadaan dan Pencegahan Penyebaran Covid-19 di SMP N 2 Magelang, Wiwit Purnomo kemarin (11/10).

Dengan waktu yang terbatas tersebut, para guru harus bisa memaksimalkan pembelajaran dengan baik. Begitu pula dalam menaati protokol kesehatan (prokes) yang ditetapkan. Tapi, menurut Wiwit, vaksin bukan menjadi syarat untuk pelaksanaan PTMT. “Vaksin bukan syarat utama, yang terpenting harus mendapat izin dari orang tua dan taat prokes,” jelasnya.

Dikatakan, jika ada program vaksinasi Covid-19, sekolah tidak memaksa semua siswa harus vaksin. “Mungkin orang tuanya masih takut,” ujarnya. Akan tetapi, Wiwit berharap, semua bisa melaksanakan vaksin agar aman dan melindungi diri dari virus korona. ”Berbeda halnya dengan para guru. Mereka sudah divaksin sejak awal tahun 2021,” terangnya.

PTMT juga membuat kegiatan eksrakurikuler menjadi terhambat dan tidak berjalan. “Ekstrakurikulernya off dulu, menunggu persetujuan dari dinas,” jelas Sri Mulyani Sekretaris Tim Gugus Tugas.

Sri mengatakan, semua kegiatan yang ada di sekolah harus dilaporkan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang. Hal ini sebagai bahan evaluasi dan penilaian terhadap berlangsungnya PTMT di SMP N 2 Magelang.

Semenjak PTMT berlangsung, banyak orang tua siswa yang senang dan merespons positif. Begitupula dengan para siswa. Pasalnya, sejak awal ditetapkannya pembelajaran jarak jauh (PJJ), siswa kesulitan dalam memahami materi yang diberikan. Baik dari Googleclassroom, youtube, maupun aplikasi belajar lainnya. “Orang tua banyak yang mengeluh, anaknya diam di rumah dan tidak paham materi pembelajarannya,” terang Sri.

Sebagai bagian dari tim gugus di sekolah, Sri dan timnya khawatir dengan munculnya klaster Covid-19. Ketika di lingkungan sekolah, prokesnya memang diperketat. Namun, dia juga tidak tahu jika di luar sekolah, mungkin banyak siswa yang tidak mematuhi prokes. “Tidak menutup kemungkinan jika mereka bermain tidak memakai masker,” tutur Sri. (cr1/bah)

Magelang