RADAR JOGJA – Mata Air Ndas Gending memiliki potensi besar pengembangan pariwisata. Berlokasi di Dusun Ganjuran, Sukorejo, Mertoyudan, Kabupaten Magelang, mata air ini dimanfaatkan sebagai area pemandian. Airnya jernih dan tak pernah kering sekalipun kemarau panjang.

Kendati begitu, pengembangan wisata ini terkendala oleh lahan. Karena berbenturan dengan lahan pribadi warga desa lain, Desa Bondowoso. “Masih banyak penataan terkait alas haknya. Kan masih belum jelas. Masih ditelusuri,” ungkap Camat Mertoyudan Bambang Hermanto.

Pihaknya belum menemukan pasti status hak tanahnya. Apakah tanah desa (TD) atau bukan. Juga terkait status wilayah, karena berlokasi di antara Desa Bondowoso dan Desa Sukorejo. Jika memang TD, maka pengembangan dapat dilakukan dengan memanfaatkan dana desa (DS), sehingga harapannya ke depan dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk meningkatkan pendapatan asli desa (PADes) setempat.

“Dikelola biar tidak kalah dengan Umbul Ponggok, Klaten,” terangnya. Jika status lahan itu belum menemukan titik terang, langkah yang ditempuh meminta solusi ke pemkab. Apakah dalam bentuk Surat Keterangan (SK) Bupati atau Sekretaris Daerah (Sekda). “Atau bekerjasama pengesahan dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN),” katanya.

Dikatakan, terkait rencana penataan ke depan, lokasi ini akan dipasang tiket masuk dan retribusi. Rencananya tiketing mulai diberlakukan 2020. Rencana pengembangan digelontorkan Rp 90 juta bersumber dari anggaran dana desa (ADD). Namun karena pandemi, terjadi refocusing. Dana di alihkan untuk penanganan Covid-19.

Dukuh Ganjuran Siyono mengatakan, objek wisata berbasis alam itu berdiri di lahan seluas sekitar 1.000 meter persegi. Memiliki empat kolam pemandian, tiga bangunan pengelolaan air, dan area parkir. “Saat ini yang mengelola pemuda dusun. Pendapatan dimasukkan kas kampung,” terangnya.

Lokasi itu dikelola warga belum genap satu tahun. Sebelumnya pernah dikelola PDAM mulai 2017. Dan sebelumnya lagi dikelola oleh Akademi Militer (Akmil) Magelang. (mel/laz)

Magelang