RADAR JOGJA – Pemkot Magelang terus mencanangkan gerakan nasional non tunai. Salah satunya dengan menerapkan e-retribusi di Pasar Tradisional. “Ada dua pasar yang sudah menerapkan. Yakni, Pasar Cacaban dan Pasar Kebonpolo,” ungkap Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Magelang Catur Budi Fajar Soemarmo dalam kegiatan Launcing Penerapan E-Retribusi Pelayanan Pasar Kebonpolo, Senin (26/10).

Sistem pelayanan dan pembayaran e-retribusi lebih dulu dilaksanakan di Pasar Cacaban pada 2019 lalu. Diterbitkan sebanyak 110 kartu e-retribusi untuk pedagang. Per kartunya di top up sebesar Rp 10 ribu. Nah, kali ini diterapkan pada 333 pedagang Pasar Kebonpolo. Dengan di-top up sebesar Rp 5 ribu per kartu dan difasilitasi Bank Jateng Cabang Magelang.

Dikatakan, tujuan pemberlakuan e-retribusi ini turut mensukseskan program pembayaran non tunai yang tengah digalakan pemerintah. Selanjutnya, memudahkan administrasi, mengoptimalkan penerimaan retribusi pelayanan pasar dan mengedepankan transparasi keuangan. “Juga menghindari kebocoran penerimaan layanan retribusi pasar,” katanya.

Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito mengungkapkan, penerapan e retribusi ini sebagai upaya inovasi mewujudkan transparasi baik pedagang maupun petugas. Terlebih di tengah pandemi ini pelaksanaan e-retribusi diharapkan dapat mencegah persebaran Covid-19. “Saya rasa lebih efisien, efektif dan keamanannya terjamin,” ujarnya. Penerapan ini juga dalam rangka sosialisasi  mendorong masyarakat lebih maju. Terutama dalam memanfaatkan layanan transaksi elektrik.

Penerapan e-retribusi ini mendapatkan apresiasi dari pedangang pasar. Penjaga kios sayuran Pasar Kebonpolo Maryani mengatakan, sejak diberlakukannya e-retribusi pembayaran menjadi lebih praktis dibandingkan sebelumnya yang ditarik manual dengan mencatat di buku retribusi. “Lebih simpel. Kalau kios tutup bisa dibayar langsung sebelumnya. Per kios Rp 3 ribu,” sebutnya. (mel/pra)

Magelang