RADAR JOGJA – Stunting atau gangguan gizi buruk pada anak, bukan hanya terjadi saat pertumbuhan anak setelah lahir. Melainkan asupan gizi pada ibu mengandung (hamil) sebagai makanan pokok anak saat dalam kandungan.

Petugas gizi Puskesmas Magelang Selatan Sri Utari menjelaskan, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak sejak hari pertama kehidupan hingga berusia dua tahun, lantaran kekurangan gizi kronis. Stunting juga bisa terjadi karena kesalahan pola asuh dan pola makan serta sanitasi tidak bersih.

“Kami selalu memantau ibu hamil agar selalu menjaga keseimbangan asupan gizi,” ungkap Utari saat di temui di kantornya, Rabu (21/10). Disebut gizi seimbang apabila unsur karbohidrat, vitamin, mineral, protein dan kaya serat sudah terpenuhi.

Ada sumber protein nabati dan hewani, sayuran dan buah. Kebutuhan gizi makan pada ibu hamil harus diutamakan. “Harus sering makan untuk perkembangan janin. Sebab, seribu hari sejak pertama kehidupan, janin dalam fase perkembangan otak,” terangnya.

Saat hamil, ibu wajib melakukan minimal empat kali pemeriksaan. Satu kali pemeriksaan di trimester pertama dan dua kali periksa di trimester tiga. Usai bayi lahir, harus diberikan air susu ibu (ASI) esklusif 0-6 bulan. Di atas enam bulan bayi boleh diberikan pendamping ASI atau asupan makanan tambahan. Seperti bubur yang memiliki tekstur lembut dan lain-lain. Ibu wajib menyusui hingga anak berusia dua tahun.

Bayi juga wajib dipantau perkembangannya sebulan sekali melalui Posyandu. Jika setiap pemantauan penambahan berat badan kurang dari dua ons, maka terjadi gizi buruk atau salah pola asuh. Kemudian rajin melakukan imunisasi, penambahan vitamin dan obat cacing setahun dua kali untuk kekebalan tubuh anak.  “Nah dalam satu hari ibu wajib menyusui delapan kali, tiap tiga jam sekali kepada bayinya. Jangan sampai telat,” ucapnya.

Bahaya stunting dapat menyebabkan daya tahan tubuh anak lemah, sehingga rentan penyakit. Selain itu juga berpengaruh pada tingkat kecerdasan otak.

Kendati begitu, dia tak menampik meningkatnya angka stunting di tengah pandemi. Sebab, pihaknya juga sulit melakukan pemantauan. Selain minimnya akses bertemu, juga antusiasme masyarakat yang menurun. “Posyandu libur, banyak yang takut periksa karena Covid-19,” katanya.

Dikatakan, sebagian Posyandu baru akan buka pada Oktober ini. Itu tergantung angka kasus di masing-masing lingkungannya. Kendati begitu pantauan door to door tetap dilakukan. Serta sosialisasi dan edukasi melalui online juga digencarkan. “Ada juga yang janji bertemu dengan petugas kesehatan,” katanya.

Sementara itu, Rosiyah, 52, warga Kampung Trunan, Tidar Selatan, Magelang Selatan mengaku, sejak Posyandu diliburkan cucunya jarang dilakukan pemeriksaan kesehatan. Sesekali pernah diperiksakan di fasilitas kesehatan. Tetapi itu tidak rutin tiap bulan.  “Ada rasa kekawatiran virus ini (Covid-19, Red). Tapi ya cucu saya ini takut dan selalu menolak kalau diperiksa,” ujarnya. (mel/laz)

Magelang