RADAR JOGJA – Kumuh dan terbengkalai. Begitulah gambaran Pasar Desa Danurejo di Dusun Japunan, Danurejo, Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Selain sepi penjual dan pembeli, puluhan gerai dibiarkan menganggur.

Pedagang, hanya mengisi gerai bagian depan saja. Sedangkan los dan gerai bagian belakang dibiarkan kosong. Beberapa pintu gerai rusak. Bagian los dipenuhi sampah dan ditumbuhi ilalang.

“Ya begini kondisinya. Ini sudah lama,” ungkap penjual daging ayam Kholifah di temui di los tempat dia berjualan. Kholifah  satu – satunya pedagang yang menempati satu dari enam deretan los di bagian belakang pasar tersebut.

Pedagang Pasar Danurejo, Wolon, 78, menunjukkan kondisi gerai dan los yang kumuh dan terbengkalai,(20/10).(MEITIKA CHANDRA LATIFA/RADAR JOGJA)

Dia menceritakan, pasar ini berdiri 24 tahun silam. Sekitar tahun 1996 pasar ini mengalami kejayaan. Ratusan pedagang mengais rezeki di pasar tersebut. Semua gerai dan los penuh. Bahkan banyak permintaan masyarakat luar untuk membuka lapak di pasar ini.

Setelah lima tahun berjalan, pasar ini meredup. Penyebabnya banyak faktor. Yakni, adanya penataan pasar, mahalnya retribusi kala itu, juga banyaknya pasukan eyek-eyek yang menjual sayuran di rumah-rumah. “Lama-lama minat pembeli berkurang. Pedagangnya merugi lalu meninggalkan kiosnya,” kata Kholifah, perempuan paruh baya itu.

Disebutkan, dulu ketika jaman keemasan pasar tersebut, dia mampu menjual daging ayam 20 hingga 25 ekor ayam per hari. Ditambah aneka jenis ikan tawar dan laut segar. Sekarang jualannya terbatas. Paling banter 7 kg daging ayam, 5 kg ikan lele dan setengah kg udang maupun cumi-cumi.

Pedagang lainnya, Wolon, 78 juga menyebut, pernah meraup untung dengan berjualan kerupuk di pasar ini. Namun, setelah lima tahun pasar ini berjalan, banyak terjadi pencurian di lokasi tersebut. ”Toko alat elektronik pernah di bobol maling. Tumpukan beras pedagang juga diangkut maling,” ujarnya.

Lain halnya penjual sayuran Maryati, 62. Dia mengatakan, sepinya pembeli semenjak adanya pembatas jalan nasional yang melintas di pasar tersebut. Adanya pembatas itu, sehingga pembeli dari seberang harus memutar jika hendak ke pasar tersebut. “Ini membuat pembeli malas beli ke sini. Padahal dulu banyak pegawai dari kota mampir ke pasar ini,” katanya.

Dikatakan, para pedagang yang tersisa berharap, pemerintah turun tangan dalam mengatasi kondisi ini. ”Sehingga ke depan pasar ini tetap bisa eksis dan kembali jaya,” harapnya. (mel/bah)

Magelang