RADAR JOGJA – Teguh Edi Suparto, harus rela menunggu penumpang selama lima jam di persimpangan Jalan Perintis Kemerdekaan, Rejowinangun Utara, Magelang Tengah, Kota Magelang, Selasa (22/9). Ya, sopir angkutan umum itu baru akan lepas gasnya ketika kursi di mobilnya sudah dipenuhi penumpang. Hingga matahari tepat diatas ubun-ubun, tak satu pun penumpang dia dapati.

Inilah perjuangan pria lanjut usia itu demi mengais rezeki di tengah Pandemi Covid-19. Edi, merupakan salah seorang dari ratusan sopir angkutan umum di Kota Magelang yang terdampak Covid-19.

Edi yang tergabung dalam Paguyuban Patma (Pakis, Tegalrejo, Magelang) menyebut, selama pandemi pendapatannya terjun bebas. Pendapatan berangsur-angsur turun sejak April lalu dan semakin parah sebulan terakhir ini.

“Jeblok pendapatannya. Paling pahit Rp 17 ribu sehari. Rp 30 sehari sudah syukur,” ucap Edi ditemui di lokasi, Selasa (22/9).

SEPI PENUMPANG: Sopir Angkutan Umum Magelang-Tegalrejo Teguh Edi Suparto, 69, berjam-jam menunggu penumpang naiki mobilnya, di wilayah Rejowinangun Utara, Magelang Tengah, Kota Magelang, (22/9). (MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA )

Kendati begitu, dia tak punya pilihan pekerjaan lain. Sopir sudah menjadi profesinya sejak usia muda. Mulai dari sopir truk, bus antar provinsi sudah dia lakoni. Kini di usia senjanya dia memilih bekerja dalam lingkup kecil di tanah kelahirannya.

“Sejak pukul 09.00 saya datang kesini hingga sekarang pukul 13.30 tak kunjung dapat penumpang,” katanya memelas.

Lantaran sepi penumpang, dia hanya mengoprasikan angkutan yang dia sewa itu satu setengah pulang pergi (pp). Dari kediamannya dia berangkat, lalu menuju pangkalan di Jalan Perintis Kemerdekaan,  Rejowinangun Utara, Magelang Tengah. Selanjutnya berangkat lagi menuju Tegalrejo sekalian dia pulang. “Padahal kalau normal, tiap seperempat jam berangkat,” jelasnya.

Disebutkan, dari penghasilannya sehari-hari itu kadang kala tidak dapat menutup biaya sewa mobil. Padahal oleh sang pemilik sudah menurunkan tarif sewa hingga setengahnya. Yang awalnya Rp 60 ribu menjadi Rp 30 ribu. “Lha kalau dapatnya di bawah itu kan nggak cukup. Apalagi makin hari makin sepi,” ujarnya.

Akibat pandemi ini, dia kehilangan 60 persen penumpang, mayoritas anak sekolah dan kalangan umum. Persebaran Covid-19 yang tak kunjung reda membuat sejumlah orang membatasi keluar rumah.

Sopir lainnya, Marsono, 55, menambahkan, ada 136 unit angkutan di Paguyuban Patma. Anggotanya lebih dari jumlah tersebut. Selama pandemi ini angkutan yang beroperasi kurang dari setengahnya. Termasuk sopirnya, juga banyak yang beralih profesi. Jumlah angkutan tersebut beroperasi di tiga jurusan dan 12 jalur. “Angkutan yang beroperasi 50 unit. Itupun setiap jalurnya kurang dari 10 unit. Jalur 11 dan 12 yang ke arah kota misalnya, hanya dua yang beroperasi dari total 10 unit angkutan,” tandasnya. (mel/bah)

Magelang