RADAR JOGJA – Peredaran narkotika, psikotropika, dan obat-obatan terlarang (narkoba) di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan. Sasaran peredaran barang haram itu pun tak pandang bulu. Menyentuh semua golongan. Tak terkecuali aparat sipil negara (ASN).

Sebagai lembaga pendidikan di bawah koordinasi Kementerian Pertanian, Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YoMa) berkomitmen turut mencegah penyalahgunaan narkoba di segala lini. Di antaranya dengan rutin menggelar tes antinarkoba bagi seluruh karyawan Polbangtan YoMa. Sekaligus menggelar sosialisasi program pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkoba (P4GN). Kegiatan ini dilaksanakan Senin (14/9/2020).

Mengingat saat ini masih masa pandemi virus corona (Covid-19), sosialisasi P4GN dilaksanakan secara daring. Sosialisasi dibagi menjadi lima ruang Zoom meeting. Guna mencegah terjadinya kerumunan dalam satu ruangan.

Sosialisasi P4GN menghadirkan pembicara Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Magelang Catharina S. M. SSos. Sedangkan pelaksanaan tes urine dilaksanakan di Polbangtan YoMa kampus Magelang oleh petugas BNN. Seluruh karyawan Polbangtan YoMa dites urine tanpa kecuali. Hasil tes urine tersebut akan dilaporkan kepada Biro Organisasi dan Kepegawaian, Sekretarian Jenderal Kementerian Pertanian.

Wakil Direktur II Polbangtan YoMa drh Yudiani Rina Kusuma MP mengatakan, kegiatan tes urine bebas narkoba dan sosialisasi P4GN dilaksanakan rutin setiap tahun. Menurutnya, kegiatan tersebut mendapat perhatian khusus Biro Organisasi dan Kepegawaian, Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian.

Rina menegaskan, sosialisasi P4GN merupakan salah satu bentuk revolusi mental. “Presiden kita pernah berkata bahwa menitipkan masalah narkoba agar disampaikan secara gencar. Karena posisi Indonesia sudah dalam darurat narkoba,” katanya.

Dengan sosialisasi P4GN, lanjut Rina, diharapkan bisa mengurangi angka penyalahgunaan narkoba di Indonesia.

Sementara itu, Kepala BNN Kabupaten Magelang Catharina S. M. Ssos mengatakan, darurat narkoba di Indonesia sudah mencapai level nasional. Penyelundupan dan peredaran narkoba dilakukan oleh para bandar dengan segala cara. Beragam modus peredarannya, di antaranya, diselipkan di masker atau makanan/sayuran. Bahkan diselipkan di pembalut wanita.

Penyalahgunaan narkoba bahkan sudah menimpa anak-anak usia 10-15 tahun. “Ini kejadian di Kabupaten Magelang. Korban sekarang direhabilitasi. Sedangkan pengedarnya sudah ditahan baru-baru ini,” ungkapnya.

Menurut Catharina, sebagian besar anak-anak memakai narkoba sebagai bentuk pelampiasan atau pelarian akibat kesibukan orang tua mereka. Juga akibat buruknya komunikasi antara anak-anak dan orang tuanya. Selain itu, mereka beralasan narkoba bisa untuk menghilangkan masalah. Ada juga yang merasa karena tidak dipedulikan oleh orang tuanya. Diajak teman untuk coba-coba. “Anak yang broken home juga ada,” katanya.

Untuk menyembuhkan para korban penyalahgunaan narkoba, lanjut Catharina, ada beragam cara. Pertama, konseling dan rawat jalan. Lalu dilihat perkembangannya. Ada pula dengan metode spiritual. Seperti terapi air hangat sekaligus dibacakan zikir. Serta konseling secara spritiual untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.(*/yog)

Magelang