RADAR JOGJA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Magelang memastikan anggaran pencegahan demam berdarah dengue (DBD) tidak dialihkan. Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Yis Romadon menjelaskan anggaran penangangan DBD tidak di-refocusing. ”Karena DBD ini penyakit yang enggak bisa diprediksi,” jelasnya.

Dia menyebut ada dua kegiatan yang menyerap anggaran DBD cukup besar. Yakni pengasapan atau fogging yang mendapat alokasi sebesar Rp 173 juta per tahun. Kemudian gaji para kader juru pemantau jematik (jumantik) mencapai Rp 92 juta terhitung sampai akhir Desember mendatang. Anggaran pengasapan baru dikeluarkan untuk penyemprotan di 20 titik lokasi.

Disebutkan, pada 2019 ada 73 kasus DBD dan 342 kasus demam dengue (DD). Sedangkan tahun ini ada 15 kasus DBD dan 79 kasus DD tersebar di sembilan kelurahan. Kasus tertinggi ada di Kelurahan Magelang tiga kasus dan Kelurahan Jurangombo tiga kasus.

Pemberantasan sarang nyamuk menjadi salah satu kunci pengendalian penyakit ini. “PSN dengan 3M plus, menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, memanfaatkan bahan bekas untuk didaur ulang, dan menghindari gigitan nyamuk dengan memakai pakaian panjang, kelambu, obat nyamuk dan sebagainya,” ujarnya.

Wilayah padat penduduk sangat berpotensi terjadi penularan. Nyamuk bisa terbang dalam radius 100-200 m. “Para kader jumantik akan langsung melakukan pemantauan di lapangan jika dalam dalam satu rumah ada yang kena DBD atau DD, diikuti warga sekitar mengalami demam. Hasil dari penyelidikan epidemiologi (PE) akan langsung kami tindaklanjuti,” jelasnya. (asa/bah)

Magelang