RADAR JOGJA – Meski sudah kembali dibuka, Balai Konservasi Borobudur (BKB) masih akan mengatur pengunjung di Candi Borobudur. Seperti di zona 1 atau zona inti Candi Borobudur, nantinya pengunjung hanya diperbolehkan melihat candi dari sekelilingnya dengan didampingi pramuwisata dan dibatasi waktunya.

Hal itu yang disimulasikan oleh BKB di zona 1 Candi Borobudur,kemarin (26/6). Pelaksana Tugas Kepala BKB Tri Hartono menjelaskan, hal ini menjadi momentum agar pengunjung lebih memahami konservasi warisan cagar budaya dunia ini. Apalagi sebelumnya ditemukan banyak aksi vandalisme di bagian candi. “Kerusakan seperti coretan dan permen karet itu bisa dihindari. Kisah bisa diceritakan lewat pemandu. Relief bisa dilihat secara virtual,” jelasnya.

Selain itu, tujuannya juga meminimalisasi risiko penyebaran Covid-19. Dengan pengaturan kunjungan ini, dia berharap pengunjung dapat memahami upaya konservasi Candi Borobudur. Selain mengurangi potensi vandalisme, pengunjung yang tidak dibatasi memperparah keausan batu candi.

Jika dibuka seperti sebelumnya, dia juga menilai, penerapan social distancing sangat sulit dilakukan. “Lorong-lorong di Candi Borobudur jaraknya sangat dekat. Sehingga kalau menghindari antara satu dengan yang lain satu meter sangat sulit. Padahal salah satu syarat ada jarak,” jelasnya.

Berbagai persyaratan harus dipenuhi pengunjung untuk bisa masuk ke zona 1. Selain mematuhi protokol kesehatan, mereka wajib didampingi pramuwisata. Tiap pramuwisata dapat mendampingi maksimal 20 orang selama satu jam. Sedangkan kapasitas maksimal zona 1 dibatasi 140 orang.

Namun, pihaknya masih belum tahu kapan zona 1 resmi dibuka. “Kami sudah mengajukan izin ke Bupati Magelang. Mestinya dibuka setelah ada surat dari Gugus Tugas,” jelasnya.

Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia Kabupaten Magelang, Soni Warsono menjelaskan, nantinya dengan waktu hanya satu jam cerita perlu dipadatkan. “Kalau biasanya tergantung wisatawan. Bisa tiga sampai empat jam. Bahkan ada yang sampai seharian,” jelasnya. (asa/pra)

Magelang