Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Purworejo berhasil memperjuangkan aparatur sipil negera (ASN) yang meninggal dunia saat bertugas memperoleh kenaikan pangkat anumerta. Sumiyati, guru sekolah dasar, merupakan ASN pertama yang memperoleh gelar tersebut.

Budi Agung, PURWOREJO – Radar Jogja

Amat Kodrat, guru Sekolah Dasar Negeri Tersidi Lor, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo, berusaha menahan air matanya yang mengcur dari matanya. Dia berduka lantaran istrinya, Sumiyati, meninggal dunia akibat kecelakaan saat menunaikan tugas. Sang istri, yang merupakan guru sekolah dasar berstatus aparatur sipil negera (ASN), ditabrak seorang pelajar yang mengendarai kendaraan tanpa pelat nomor.
Kemarin (29/4), Sumiyati mendapat gelar dan kenaikan pangkat anumerta. Gelar tersebut diserahkan Bupati Purworejo Agus Bastian di Ruang Bagelen Kompleks Pemkab Purworejo. Dalam kesempatan itu, bupati di dampingi Wakil Bupati Purworejo Yuli Hastuti, Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Purworejo Sukmo Widi Harwanto, dan serta Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Purworejo drg Nancy Megawati Hadisusilo.
Nancy mengatakan, almarhum Sumiyati mendapatkan kenaikan golongan dari III B ke IIIC. Kecelakaan yang merengut nyawa Sumiyati terjadi hampir dua tahun lalu. Tepatnya, 19 Juli 2018.
“Pemberian kenaikan pangkat anumerta di Purworejo baru kali ini dilakukan setelah adanya PP Nomor 70 Tahun 2015 tentang Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian,” kata Nancy.
Menurutnya, pengurusan kenaikan pangkat anumerta untuk Sumiyati membutuhkan waktu cukup lama. BKD Purworejo terus mendorong Amat Kodrat selaku suami Suniyati untuk tetap teguh melakukannya. BKD sendiri melakukan pendampingan dan membantu penyiapan berbagai berkas yang diperlukan.
“Rencanya masih ada dua lagi. Gelar anumerta ini akan diberikan kepada dua ASN Purworejo yang meninggal dunia saat bertugas,” tutur Nancy.
Amat Kodrat membenarkan sempat frustasi dan ingin berhenti dalam mengurus gelar anumerta istrinya tersebut. Namun, karena dorongan dari BKD membuatnya tetap kuat dan mengikuti semua prosedur yang ada. “Terus terang saya lelah. Saya sudah mengikhlaskan istri saya pergi,” katanya.
Amat mengaku mendapatkan uang dari pemberian gelar anumerta istrinya itu. Namun, dia menegaskan tidak memikirkan besaran uang tersebut.
“Saya belum punya rencana apa-apa. Bahkan, untuk menikah lagi juga belum terpikir,” tambahnya.
Dia mengaku akan fokus membesarkan anak-anaknya. Dia ingin anak-anaknya menuntaskan sekolah dan mendapatkan pekerjaan yang layak. (amd)

Boks