MAGELANG, Radar Jogja – Candi Borobudur diupayakan terus dilestarikan. Salah satu langkah mengembangkan pelestarian candi yang terletak di Kabupaten Magelang tersebut dengan memanfaatkan teknologi Augmented Reality (AR/realitas berimbuh) dan Virtual Reality (VR/realitas maya).

“Ini menjadi bagian dari digital heritage (warisan digital) untuk membentuk kesadaran bersama,” jelas Koordinator Kelompok Kerja Pemeliharaan Candi Borobudur dan Kawasan Brahmantara saat menjadi narasumber dalam Diskusi Online Digital Heritage di Kabupaten Magelang kemarin (17/4).

Menurutnya, cakupan digital heritage sebenarnya cukup luas. “Di semua proses cultural resource nanagement mulai dari identifikasi nilai penting, proses manajerial, sampai monitoring masuk dalam digital heritage. Warisan digital mulai dari nilai yang berbasis masyarakat. Koleksi yang analog menjadi data digital,” jelasnya.

Memanfaatkan AR dan VR menjadi satu bagian dari pengembangan warisan digital. Dengan memanfaatkan teknologi ini membuat masyarakat bisa merasakan pengalaman menikmati Borobudur dengan berbagai kearifan di dalamnya secara lebih nyata dibandingkan hanya membaca teks atau menonton video.

“Apa yang bisa kami presentasikan bisa menjadi hal yang menarik. Misalnya, kondisi tanah Borobudur dalam bentuk dua dimensi. Akan menjadi sesuatu yang beda kalau presentasi soal kondisi tanah itu dalam bentuk tiga dimensi,” paparnya.

Bramantya menegaskan, pemanfaatan tekonologi dapat mengatasi masalah keterawatan Borobudur yang saat ini cukup memprihatinkan. Sebab, banyaknya pengunjung dapat mengakibatkan tingkat keausan batu candi semakin tinggi. Selain itu, larangan menduduki stupa dan vandalisme yang sering diabaikan oleh pengunjung.

Menurutnya, AR dan VR bisa digunakan sebagai sarana untuk menggambarkan kondisi berapa puluh tahun ke depan jika tindakan vandalisme tetap terjadi di kompeleks Candi Borobudur. Penggambaran secara nyata dapat ditunjukkan kepada masyarakat. Ini akan membentuk kesadaran bersama masyarakat untuk ikut menjaga dan melestarikan warisan cagar budaya dunia ini.

“Misalnya ditunjukkan bagaimana skenarionya jika pembangunan tidak terkendali. Ada juga, misalnya, intensitas penyinaran matahari simulasi akan menimbulkan kondisi keterawatan material. Kita lihat prediksi dalam bentuk virtual kita seolah-olah di sana,” jelasnya. (asa/amd)

Magelang