AHMAD SYARIFUDIN/RADAR JOGJA

RADAR JOGJA – Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur terus dikembangkan. Namun, ternyata Balai Ekonomi Desa (Balkondes) yang berada di sekitar kawasan candi yang terletak di Kabupaten Magelang tersebut masih sepi. Rumah tinggal yang dikelola balkondes tidak banyak didatangi pengunjung.

Salah satu faktor yang menyebabkan kondisi tersebut yakni belum adanya upaya menghidupkan kawasan Candi Borobudur saat malam hari. ”Karena malam hari di Borobudur tidak ada apa-apa,” jelas Direktur PT Manajemen CBT Nusantara Jatmiko saat dihubungi kemarin (10/3).

Menurutnya, tidak adanya kegiatan dan hiburan saat malam hari membuat wisatawan enggan menginap. Wisatawan menginap hanya saat ada event tertentu.

Tidak hanya rumah tinggal yang dikelola balkondes saja yang sepi. Tingkat okupansi hotel-hotel juga cukup rendah. ”Kenapa homestay sepi? Sebenarnya, okupansi hotel di Borobudur cukup rendah. Kenapa harus menginap di Borobudur?” ujarnya.

Jatmiko menegaskan, untuk menghidupkan malam hari di kawasan Candi Borobudur perlu peran berbagai pihak. ”Destinasi baru harus dibuat agar length of stay panjang. Malam hari harus hidup. Bagaimana menghidupkan malam hari, ini bukan pekerjaan balkondes. Tapi, pekerjaan bareng-bareng, harus ada program,” kata dia.

Jika suasana malam hari dapat dihidupkan, dia yakin akan memberikan dampak berlipat ganda bagi perekonomian masyarakat. Potensi lokal pun dapat berkembang. ”Kalau malam hari hidup, wisatawan harus menginap. Sehingga length of stay panjang, spending tinggi,” jelasnya.

Saat ini CBT Nusantara terus menyiapkan pengelola balkondes untuk dapat menangkap berbagai peluang yang ada dalam pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur. ”Jangan sampai investor besar masuk, mereka belum siap. Balkondes ini menyiapkan mereka mindset bisnisnya, bagaimana mengambil opportunity secara baik dan benar,” paparnya. (asa/amd)

Magelang