RADAR JOGJA – Koordinator Komunitas Pinggir Kali Muhammad Nafi menjelaskan, sekalipun Prasasti Mantyasih dan Prasasti Poh kini diletakkan di Kampung Meteseh, kedua prasasti ini tidak ditemukan di dekat kampung ini. Prasasti Mantyasih ditemukan di Temanggung. Sedangkan Prasasti Poh ditemukan di Klaten. Keduanya berkisah mengenai Ratu Dyah Balitung.

Namun, terdapat penyebutan nama-nama dalam prasasti-prasasti tersebut yang mirip dengan nama-nama daerah di Magelang. “Dalam prasasti Mantyasih dan Poh disebutkan nama-nama yang diperkirakan di sini. Prasasti itu tidak ditemukan di sini,” jelasnya.

Dalam Prasasti Poh misalnya yang menyebut nama desa Mantyasih (baris 13 lempengan 1b), Galang (baris 6 lempengan 2b) dan Glangglang (baris 5, lempengan 2a). Lalu dalam Prasasti Mantyasih disebutkan hutan di gunung Susundara dan Wukir Sumwing (Sundara-Sumbing).

Di daerah Surakarta sampai sekarang juga terdapat Desa Matesih. Akan tetapi, banyak bukti yang mengarahkan, bahwa yang dimaksud Mantyasih pada jaman dahulu, sama dengan Meteseh di kota Magelang sekarang. Selain penyebutan gunung Susundara dan Sumwing, disebut pula nama desa Wadung Poh (wanua i wadung poh) dan desa Kdu.

Nama Wadung Poh kemudian disingkat menjadi Dung Poh, dan akhirnya berubah ucapannya menjadi Dumpoh (sebelah utara kota Magelang sekarang). Demikian pula nama Kdu akhirnya berubah menjadi desa Kedu (sebelah utara Temanggung).

Selain itu juga disebut dalam prasasti bahwa desa Mantyasih yang dipimpin oleh lima orang pejabat patih secara bergantian setiap tiga tahun. Mereka mampu dan berhasil menghilangkan rasa takut (katakutan ikanang wanua ing kuning). Selain itu, mereka juga mampu mengamankan jalan raya (rumaksa ikanang hawan) desa Kuning Kagunturan.

Seperti telah diketahui, di sebelah barat laut kota Magelang (Meteseh) sampai sekarang masih terletak desa Kembang Kuning dan Guntur (kelurahan Rejosari, Bandongan). Nama-nama Kembang Kuning dan Guntur inilah yang diduga kuat dimaksud dalam prasasti Mantyasih.

Selain itu, juga menyebut nama-nama desa lainnya, nama para pejabat, penduduk desa, dan pemberian hadiah baik kepada para pejabat tinggi maupun rakyat jelata. Juga disebut saji-sajian yang digunakan dalam upacara manusuk sima yang menetapkan sebuah desa menjadi daerah bebas pajak atau yang dikenal dengan desa perdikan.

Menurut Nafi, hal ini sebagai balas jasa karena penduduk Mantyasih telah membantu mengamankan jalur transportasi melalui sungai saat upacara pernikahan putri raja. “Orang dulu kan bepergian menggunakan gethek. Penduduk setempat mengamankan jalur tersebut,” jelasnya. (asa/din)

Magelang