Radar Jogja – Ada masukan yang digaungkan kalangan seniman kepada Pemerintah Kota Magelang. Mereka mengugulkan perlu adanya ruang yang layak untuk berkesenian.

Usulan tersebut dilontarkan Koordinator Komunitas Pinggir Kali Muhammad Nafi. Menurutnya, ruang untuk berkesenian sangat diperlukan agar kelompok-kelompok seni dapat menunjukkan eksistensinya di tengah masyarakat.

”Dulu tiap kampung ada tanah lapang. Sekarang banyak kampung sudah kehilangan ruang publiknya,” jelasnya saat ditemui di Alun-Alun Kota Magelang (9/1).

Menurutnya, seni kebudayaan di Kota Magelang sulit berkembang jika tidak ada ruang-ruang yang layak untuk menggelar pertunjukan maupun pameran. Berbagai penampilan mulai kesenian tradisional sampai kontemporer dapat menunjukkan karya-karya mereka apabila ada ruang untuk berkesenian. Selain itu, hal ini juga dapat ikut memajukan pariwisata.

Sebenarnya, tegas dia, saat ini ruang-ruang untuk berkesenian bukannya tidak ada sama sekali. ”Dulu sebetulnya tahun 1980-an sudah ada Gedung Kyai Sepanjang, yang kini jadi perpustakaan. Dulu itu gedung kesenian, menjadi pusat kegiatan seni,” jelasnya.

Sejak Gedung Kyai Sepanjang dijadikan sebagai kantor Dinas Perpustakaan Kota Magelang, Nafi mengaku sulit mengakses gedung tersebut untuk menggelar pertunjukan. Birokrasi yang diberlakukan untuk memanfaatkan gedung tersebut cukup rumit. Akhirnya, banyak kelompok kesenian kesulitan mencari tempat untuk menggelar pertunjukan.

”Sejak pembangunan tahun 2010, diberikan ke dinas perpustakaan. Akses agak sulit. Fasilitas yang ada juga ala kadarnya. Di lantai dua, membawa alat pun susah,” jelasnya.

Menurut Nafi, pemerintah perlu membangun pusat-pusat kesenian. ”Setidaknya kalau di Kota Magelang ada tiga kecamatan, ya tiap kecamatan ada pusat kesenian. Lalu, ada satu yang menjadi pusat jadi kebanggaan,” jelasnya. (asa/amd)

Magelang