Radar Jogja – Museum Pengabadian Pangeran Diponegoro terbuka untuk umum. Namun, pengunjung mmuseum yang berada di kompleks Gedung Eks-Bakorwil II yang menyimpan berbagai benda terkait Pangeran Diponegoro itu harus didampingi petugas.
Koordinator Komunitas Kota Tua Bagus Priyana menilai belum ada keseriusan dari pemerintah dalam mengurusi peninggalan Pangeran Diponegoro. “Bagaimana sulitnya pengunjung mau masuk Museum Diponegoro karena museum tidak welcome. Mau masuk pun sulit. Harus mencari security, pemandu, dan lain sebagainya,” jelasnya.
Dia mengaku kecewa dengan pengelolaan gedung tersebut. Sebab, gedung yang begitu bersejarah justru dikomersialkan sebagai gedung pernikahan.
“Kalau hari Minggu kesulitan (berkunjung ke Museum Diponegoro) karena lokasi itu untuk mantenan. Artinya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah belum melakukan upaya untuk menghargai sebuah heritage,” ungkapnya.
Bagus mencontohkan, Pemerintah DKI Jakarta lebih menunjukkan keseriusan dalam merawat peninggalan Diponegoro. “Berkaca pada pemerintah DKI mendirikan Museum Fatahilah, ruangan Diponegoro diperlakukan secara eksklusif. Museum itu diresmikan 1 April 2019. Walaupun Diponegoro di situ (Jakarta) hanya satu minggu,” jelasnya.
Menurutnya, museum itu harus dikelola oleh lembaga yang tepat. “Untuk sekelas Diponegoro, yang paling tepat Direktorat Permuseuman dan Cagar Budaya. Sehingga orang-orang yang nanti terlibat dalam museum ini benar-benar orang yang tepat,” jelasnya. (asa/amd)

Magelang