RADAR JOGJA – Tari Jingkrak Sundang karya Sujono merupakan bentuk tari kreasi yang berusaha melepaskan diri dari tari tradisional. Tari ini pada dasarnya tercipta dari kegelisahan Sujono atas penambangan pasir yang semakin merusak alam.

“Jingkrak-jingkrak sebagai wujud kemarahan. Makanya, gerakannya sangat dinamis,” jelasnya.

Tari ini menjadi bentuk kreasi dari tarian yang ada lebih dulu seperti topeng ireng dan gedruk. Berbeda dengan pendahulunya yang memakai kostum, Jingkrak Sundang ditampilkan dengan mengecat beberapa bagian tubuh penarinya.

Berbagai karakter hewan mulai sapi, kerbau, kera, gajah, anjing, landak, celeng, kijang, kelinci, ular, singa, macan, tikus, trenggiling, sampai regul ditampilkan untuk mengekspresikan kemarahan mereka. Sundang berarti tanduk yang menjadi simbol angkara murka. “Semua hewan saya beri tanduk. Karena mereka sedang marah ekosistem mereka direnggut oleh keserakahan manusia,” jelasnya.

Tari Jingkrak Sundang terkadang tampil bersama kesenian lain dari Dusun Keron. Ada Tari Kukilo Gunung, pertunjukan busana berbahan alami, sampai ogoh-ogoh. Berbagai bentuk kesenian tersebut tidak lepas dari wujud kepedulian untuk kelestarian lingkungan.

Tari Jingkrak Sundang biasanya ditarikan dua belas orang. Sedangkan penari Kukilo Gunung berjumlah delapan orang. “Tergantung dari penari, siapa saja yang bisa ikut,” jelasnya (asa/amd)

Magelang