Sejak zaman Hindia-Belanda, Magelang menjadi pusat pemerintahan Karesidenan Kedu. Banyak peristiwa besarterjadi mulai penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Belanda sampai penyerangan yang dipimpin Jenderal Ahmad Yani. Namun, informasi mengenai peristiwa masa lampau terbilang sulit diakses. Kenyataan ini menggerakkan Koordinator Komunitas Kota Tua Magelang Bagus Priyana berburu arsip mengenai peristiwa kota kelahirannya ini masa lalu.

Ahmad Syarifudin, Magelang – Radar Jogja

Bagus Priyana gigihnya berburu arsip tentang Magelang. Dia berburu ke berbagai daerah. Mulai Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Malang, dan Semarang.
“Saya tergerak saat akses tentang sejarah Magelang sangat minim,” jelasnya saat ditemui di Warung d’Lesah Kota Magelang, beberapa hari lalu.
Menurutnya, Magelang memiliki peninggalan berharga. Namun, informasi terkait hal tersebut sangat minim. “Saat kami tanyakan ke instansi, mereka enggak punya. Ini kan hal ironis. Masyarakat akan mengenal kotanya saat mereka mengetahui sejarahnya,” jelasnya.
“Di Alun-Alun Kota Magelang ada water torn, masjid, dan gereja. Mereka semua tahu kalau itu bangunan tua. Tapi, tidak ada informasi satu pun tentang objek itu. Tentu ini sangat memprihatinkan,” jelasnya.
Dia lantas mulai berburu arsip-arsip yang memuat mengenai Kota Magelang. Perburuan mulai intensif dilakukan sejak 2008. “Pernah dapat dari Prancis. Seorang kawan menang lelang majalah mengenai Magelang dan diberikan kepada saya. Arsip itu sangat istimewa karena menceritakan Magelang dari 1935-1937,” jelasnya
Menurutnya, berburu arsip tergantung keberuntungan. Sekitar empat tahun lalu, dia pernah mendapatkan 40 lebih foto pernikahan Putri Juliana, anak Ratu Belanda Wilhelmina.
Dia mendapatkan berpuluh-puluh foto hanya seharga Rp 400 ribu. “Pernikahannya di Belanda, tapi perayaannya dilakukan di beberapa kota di Hindia-Belanda. Seperti di Jakarta, Bandung, Semarang, dan Magelang,” jelasnya.
Bagus menjelaskan, berbagai seluk-beluk sejarah Kota Magelang perlu terus digali untuk melangkah ke depan. Ia pun aktif menulis di berbagai surat kabar agar dapat direfleksikan ke masa kini. ”Kesalahan-kesalahan di masa lalu pun tidak terulang,” ujarnya. (amd)

Magelang