MAGELANG – Ajang tahunan Festival Lima Gunung (FLG) kembali digelar. Di ajang FLG untuk kali ke 18 ini dibuka Jumat (5/7) di Padepokan Seni Tjipta Boedaja di Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.

Dalam penyelenggaraan kali ini, tema yang diangkat adalah Gunung Lumbung Budaya dengan melibatkan 70 kelompok seni. Ketua Komunitas Lima Gunung Supadi Hariyanto mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun sejak 2001. Setiap kegiatan dari komunitas ini adalah non-profit. “Kami sepakat untuk menolak segala bentuk sponsor.  Kegiatan ini murni untuk melestarikan kesenian,’’ ujarnya.

Festival Lima Gunung merupakan agenda tahunan Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh).Para penampil berasal dari berbagai kelompok kesenian di Komunitas Lima Gunung dan jejaringnya. Selain dari berbagai daerah, ada juga seniman luar negeri.

FLG ini juga memberikan dampak ekonomi bagi warga setempat. Mereka dengan sukarela menyiapkan rumah-rumahnya untuk transit para pengisi acara dan tamu dari luar kota yang hendak menginap. Mereka juga menjual makanan dan minuman untuk para penonton.”Berapapun jumlah pengunjung, acara ini akan tetap berlangsung. Karena acara ini merupakan sebuah kewajiban untuk menjaga kesenian daerah tetap lestari,’’ tambahnya.

Salah satu pengunjung yang menginap Kate Stodart mengaku nyaman dengan suasana pengunungan di lokasi festival. Dia beberapa kali mengikuti acara kesenian di Jogjakarta dan sekitarnya.”Tapi udara sejuk di sini membuat suasananya berbeda,’’ ujarnya.

Dia bersama tujuh mahasiswa lain berasal dari Victorian College of the Artis University of Melbourne, Australia. Mereka tertarik dengan sistem pengorganisasian komunitas lima gunung yang mampu menjadi wadah bagi kelompok-kelompok kesenian gunung.(cr17/din/fj)

Magelang