Adi Daya Perdana/Radar Jogja
REDUP: Saat gerhana matahari yang puncaknya terjadi pukul 07.24, suasana di sekitar Candi Borobudur mendadak meredup. Tak sedikit wisatawan yang menikmati sunrise kemudian dilanjut fenomena gerhana matahari dari atas candi terbesar di dunia itu.
MUNGKID – Gerhana matahari total (GMT) yang melintasi Indonesia, mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawan ke Candi Borobudur. Jumlah wisatawan yang menikmati paket wisata sunrise di atas candi Buddha itu mengalami peningkatan. Selain ingin menikmati matahari terbit, mereka juga hendak melihat gerhana matahari dengan latar belakang Candi Borobudur.

Tidak seperti biasanya, Candi Borobudur kemarin pagi lebih banyak dikunjungi wisatawan. Mereka menunggu fenomena GMT yang melintas di langit candi. Tak sedikit di antara wisatawan yang mencoba mengabadikan momen langka itu dengan kamera ponsel. Bahkan di antara mereka juga saling ber-selfie ria dengan pemandangan yang berbeda dari hari biasa.

“Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Candi Borobudur pada pagi ini lebih banyak dari hari-hari biasa,” kata Wawan Risanto, petugas Manager on Duty Manohara Hotel, yang biasa mengurusi paket wisata sunrise di Candi Borobudur, kemarin (9/3).

Jika dibandingkan sebelumnya, jumlah wisatawan yang menikmati Candi Borobudur mengalami peningkatan. Pada Senin (7/3) terdapat 66 wisatawan domestik dan mancanegara yang berkunjung ke Candi Borobudur untuk menikmati sunrise. Sementara pada Selasa (8/3) terdapat 85 wisatawan. Pada Rabu (9/3) pagi, mengalami peningkatan menjadi 97 wisatawan.

“Mereka kebanyakan wisatawan domestik,” katanya. Menurut dia, setiap hari rata-rata wisatawan asing yang menikmati sunrise 25 orang, dan kini naik menjadi 35 orang. Sementara untuk wisatawan domestik rata-rata sekitar 20 orang, naik menjadi 29 orang. Untuk paket wisata “matahari terbit” di Candi Borobudur, wisatawan asing dikenakan biaya Rp 400 ribu dan domestik Rp 270 ribu.

“Peningkatan jumlah kunjungan ini tidak lepas dari momen langka GMT. Wisatawan asing yang datang biasanya dari Eropa, tapi untuk hari ini mereka paling banyak dari Jerman,” jelasnya.

Salah seorang wisatawan domestic asal Purwokerto, Susanti, 51, mengaku sengaja menginap di sekitar Candi Borobudur agar bisa datang ke candi lebih pagi. Hal ini agar bisa menyaksikan sunrise sekaligus GMT dari Candi Borobudur. Ia beruntung bisa menyaksikan fenomena alam yang hanya terjadi 33 tahun sekali di Indonesia ini.

Dia mengatakan, saat GMT pukul 07.24, suasana di sekitar candi mendadak meredup. Sebelumnya, cuaca sangat bersahabat, matahari bersinar cerah tidak tertutup mendung. Saat menggunakan kaca mata khusus, sebagian matahari terlihat tertutup oleh bulan. “Sekitar beberapa menit, cuaca mendadak meredup namun kembali cerah berawan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Balai Konservasi Borobudur (BKB) Marsis Sutopo mengatakan, saat fenomena GMT batuan Candi Borobudur diteliti. Sebanyak enam petugas dibagi menjadi dua tim peneliti. Satu tim bertugas sebagai fotografer dan satunya sebagai arkeolog. “Penelitian ini dilakukan bukan fisik candinya, melainkan rona candi Borobudur terhadap gerhana,” jelasnya.

Batuan yang diteliti ini hanya pada sisi timur Candi Borobudur. Petugas memotret bebatuan candi sebelum dan sesudah fenomena GMT. Kemudian petugas akan mengamatinya dari rona candi tersebut.

Bebatuan candi di sisi timur diteliti karena batu itu setiap hari terkena sinar matahari. Sedangkan saat terjadi GMT, beberapa waktu tidak terkena sinar matahari langsung. “Hasil penelitian tidak bisa langsung kita ketahui, nanti membutuhkan waktu,” katanya.

Gerhana matahari di wilayah Jateng diperkirakan sebelumnya hanya kebagian sekitar 80 hingga 83 persen. Gerhana muncul dari pukul 06.20-08.35. Sementara puncak gerhana persis pada pukul 07.24. “Bagi orang beriman, fenomena GMT ini merupakan salah satu tanda kekuasaan Tuhan,” kata Marsis. (ady/laz/)

Senang karena Baru Pertama Salat Gerhana

Masyarakat di Kota Magelang antusias menyambut gerhana matahari dengan menggelar salat gerhana. Di Masjid Agung Kota Magelang, ribuan orang memadati masjid itu dengan untuk melaksanakan salat gerhana dengan berjamaah.

Sejak pukul 05.30 WIB, masjid itu sudah dipenuhi umat muslim yang sebagian besar baru pertama kali melaksanakan salat gerhana. Sebelum salat dimulai, imam terlebih dahulu memberitahu gerakan salat gerhana yang agak berbeda dari salat fardu lima waktu. Perbedaannya terdapat pada jumlah rukuk dan iktidal.

“Ya, untuk salat gerhana ini memang agak sedikit berbeda dengan salat lima waktu atau salat sunah pada umumnya,” ujar imam dan takmir masjid, Nawaro, usai salat gerhana.

Pria berumur 70 tahun ini juga memberikan khotbah tentang gerhana matahari total (GMT). Dia menjelaskan, GMT adalah tanda kebesaran Allah SWT. Umat Islam pun diminta agar bisa memanfaatkan kejadian ini untuk mengenang nikmat Tuhan YME.

“Perbanyak berdzikir, karena salat GMT sebenarnya adalah salat sunah muakad, salat sunnah yang dikuatkan atau selalu dikerjakan Rasulullah dan jarang ditinggalkannya,” papar Nawaro.

Ketua Takmir Masjid Miftachussurur menambahkan, sebelumnya ia sudah mengimbau kepada siapa pun yang ingin mengikuti salat GMT ini. Dia mengatakan sudah jauh hari menginformasikan kepada masyarakat lewat pengeras suara ataupun dari pengajian. Dan, salat GMT ini d mulai pukul 07.00 berakhir pukul 07.30 WIB.

“Saya sudah informasikan, terutama pada masyarakat sekitar masjid jika ada yang ingin melakukan salat berjamaah, dan alhamdulillah masjid penuh dengan masyarakat yang ingin melakukan salat gerhana,” imbuhnya.

Salah seorang warga Cacaban, Afina Nur Fauziah, 23 yang mengikuti ibadah sunnah di tempat itu mengaku baru pertama kali mengikuti salat gerhana. Pasalnya, saat gerhana sebelumnya tahun 1983 dia belum lahir. Dan ini waktu yang harus disyukuri, meski tidak terlewati GMT, namun ia senang masih bisa melaksanakan salat sunnahnya.

“Kita mesti bersyukur Tuhan menciptakan matahari dan bulan. Ini sunatullah yang bisa kita manfaatkan sebagai momen bersyukur kepada Allah. Semoga ke depannya diberi keberkahan yang berlimpah,” ungkapnya. (cr1/laz/ong)

Magelang