MUNGKID – Silang pendapat antara pemerintah dan DPRD Kabupaten Magelang terkait penentuan lokasi pembangunan RSUD, terus terjadi. Dewan bersikukuh menolak pembangunan di eks Pasar Hewan Kecamatan Mertoyudan. Alasannya, area lahan pembangunan kurang luas. Selain itu, lokasi itu berada di jalur padat sehingga berpotensi mengakibatkan kemacetan.

Untuk mengorek alternatif lokasi lain, DPRD melakukan kunjungan kerja ke RSUD Wates, Kulonprogo, Provinsi DIJ. Studi banding ke RSUD Wates ini untuk meyakinkan pemkab agar mendirikan rumah sakit di lokasi yang memiliki orientasi jangka panjang. Selain itu, juga lokasi terpadu, sehingga bisa menampung potensi munculnya simpul-simpul ekonomi dan pendidikan.

Anggota DPRD Kabupaten Magelang Mujadin Putu Murja mengatakan, lokasi RSUD harus bisa seperti magnet yang menarik berbagai potensi di sekitarnya. Sehingga tentu dibutuhkan lahan yang luas untuk menjawab peluang tersebut. “Jika lokasi RSUD dipaksakan di eks Pasar Hewan Mertoyudan, maka bisa dilihat bagaimana kondisinya,” katanya kemarin.

Dalam kunjungan itu, Badan Anggaran DPRD didampingi juga Asisten III Administrasi Umum, Dinas Kesehatan, Bappeda dan DPPKAD. Dipilihnya RSUD Kulonprogo dikarenakan inovasi pelayanan rawat inap tanpa kelas. Bahkan rumah sakit tersebut menembus 11 besar tingkat nasional.

Ketua DPRD Kabupaten Magelang Saryan Adi Yanto mengaku sering menjumpai banyak RSUD termasuk di Kulonprogo yang tidak berada di pinggir jalan utama. Karena hal itu dinilai berdampak pada sulitnya pengaturan lalu lintas. Selain itu, juga pengembangannya akan terhambat. “Nilai orientasi jangka panjangnya lemah. Pemkab harus belajar dengan Kulonprogo,” katanya.

Menurut dia, mengacu hasil kunjungan di RSUD Wates, rumah sakit tipe B harus memberikan pelayanan dan kenyamanan maksimal kepada pasien. Setiap tahunnya, rumah sakit selalu berkembang dan berinovasi untuk meningkatkan pelayanan. Ia berharap dengan berdirinya rumah sakit di tanah yang luas, perkembangan fasilitas dan infrastrukturnya bisa berjalan maksimal.

“RSUD sangat perlu dibangun fasilitas pendukung yang memadai mulai dari tempat parkir, yang dilengkapi ruang terbuka hijau, food court, dan penunjang lainnya seperti jalan lingkar,” jelasnya.

Ia juga mengatakan tidak menutup kemungkinan RSUD Kabupaten Magelang nantinya juga bisa menjadi rumah sakit terpadu. Di mana bisa juga didirikan sekolah kesehatan bekerjsama dengan perguruan tinggi. RSUD Kabupaten Magelang nantinya juga diharapkan menjadi rumah sakit rujukan. Ini tidak lepas dari kebutuhan publik terkait layanan BPJS dan kesehatan. “Belum lagi Magelang akan menjadi salah satu tujuan wisata baik dari dalam dan luar negeri,” kata dia. (ady/laz/ong)

Magelang