ADIDAYA PERDANA/RADAR JOGJA
MENGGUNUNG: Pengelolaan sampah di TPA di perbatasan Desa Pasuruhan, Mertoyudan dan Mungkid akan dilakukan dengan sistem ditimbun.
MUNGKID – Rencana perluasan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di perbatasan Desa Pasuruhan, Mertoyudan dan Kecamatan Mungkid belum ada kepastian. Pemkab Magelang menyatakan, rencana perluasan TPA Pasuruhan masih belum memungkinkan dilakukan. Salah satu penyebab, adanya aksi penolakan dari warga setempat.
Untuk itu, langkah sementara yang dilakukan adalah mengoptimalkan lahan yang ada. Yakni dengan menimbun sampah yang kian overload.
“Masyarakat punya hak menolak dan didengarkan. Pemkab akan berusaha berikan pelayanan terbaik. Salah satunya menimbun sampah di TPA Pasuruhan,” kata Bupati Magelang Zaenal Arifin kemarin (10/5).
Menurut bupati, kalau pengelolaannya bagus, nantinya akan dipisahkan antara sampah organik dan nonorganik. Sehingga TPA Pasuruhan memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Untuk mematangkan persoalan sampah ini, Pemkab Magelang juga melakukan konsultasi keJerman terkait pengelolaan sampah. Kemungkinan besar, Jerman memberikan bantuan senilai Rp 200 miliar untuk kegiatan pengelolaan sampah di Kabupaten Magelang.
“Info awal yang kami peroleh, nanti Kabupaten Magelang mendapat bantuan Rp 200 miliar untuk pengelolaan secara landfill,” ungkapnya.
Perwakilan pemkab yang ke Jerman adalah Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Energi, Sumber Daya Mineral dan Plt Sekretaris Daerah. Terkait detail pengelolaan sampah di TPA Pasuruhan, pemda masih menunggu hasil konsultasi tim yang berangkat ke Jerman.
“Bantuan tersebut merupakan kerja sama pemerintah pusat dan Jerman. Kabupaten Magelang hanya ditunjuk menjadi salah satu wilayah yang menerima, karena dinilai terbelakang dalam masalah sampah,” jelasnya.
Ia mengaku sudah meninjau pengelolaan sampah di TPA Pasuruhan. Hasilnya, masih belum sesuai aturan danmekanisme. Ini lantaran sampai kini sampah masih dikelola dengan sistem open dumping. Padahal, seharusnya dikubur.
“Kemarin sudah turunkan alat berat untuk timbun sampah. Kalau tidak ditimbun akan banyak resiko, salah satunya penyakit,” tuturnya.
Sebelumnya, Kepala DPU ESDM Kabuaten Magelang Sutarno mengatakan, sistem mengubur sampah banyak berkembang di daerah lain. Banyak yang berhasil meminimalisir pencemaran lingkungan dengan sistem tersebut.
Dengan sistem landfild tersebut, sampah yang datang dikubur. Limbah air yang dikeluarkan akan ditampung untuk dikelola sehingga lebih bermanfaat.
“Dengan sistem ini, pencemaran udara atau lingkungan bisa dieliminasi,”katanya.(ady/hes/ong)
Dianggap Terbelakang Kelola Sampah

Magelang