BUTUH WAKTU:Seorang petugas Bidang Pertamanan Dinas Kebersihan, Pertamanan, dan Tata Kota (DKPT) menyirami rumput alun-alun.
MAGELANG – Perbaikan alun-alun yang dilakukan Pemkot Magelang hingga Rp 6,3 miliar bakal sia-sia. Karena kerusakan rumput yang terjadi pascapentas musik dalam kegiatan servis gratis perusahaan sepeda motor belum juga pulih. Apalagi, dalam waktu dekat bakal menyusul even lain di tempat yang sama. Di antaranya, Magelang Tempo Doeloe (MTD) pada tanggal 13 – 17 Mei 2015.
Dalam kegiatan tersebut, alun-alun akan didirikan puluhan tenda atau stan untuk pameran maupun kegiatan lain. Kegiatan ini merupakan rangkaian 100 acara dalam program Ayo ke Magelang 2015.
Ardyanto, salah satu mahasiswa semester akhir Universitas Tidar (Untidar) Magelang mengaku, heran atas sikap Pemkot Magelang yang seolah tidak peduli dengan kondisi alun-alun. Pusat kota tersebut selalu dijadikan pilihan utama menggelar kegiatan Ayo ke Magelang yang sebenarnya merupakan upaya pencitraan pemerintah. Tentu saja, lanjut Ardyanto, tidak sejalan dengan semangat pembangunan maupun penataan sebuah kawasan.
“Dari dulu aturan sudah ketat. Sejak dibangun, sepeda motor tidak boleh lagi masuk. Nyatanya, saat even kemarin boleh-boleh saja. Bahkan mobil pun bisa masuk. Ini kan luar biasa,” kritiknya kemarin (10/5).
Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) ini menilai, semestinya Pemkot Magelang meniru gaya Pemkot Surabaya dalam mengatasi kerusakan pasca kegiatan promosi.
“Saat itu wali kotanya (Tri Rismaharini) bisa menggugat pihak penyelenggaranya. Semua hanya gara-gara soal taman yang rusak saja. Kalau lihat even kemarin, malah dibuka pintu, seolah-olah ini alun-alun monggo kalau mau dirusak,” sindirnya.
Ardyanto juga mengkritik komitmen penyelenggara pada Pemkot Magelang soal tanggung jawab perbaikan rumput dan kawasan alun-alun usai acara. Menurutnya, sepantasnya pemkot berang dengan memberi deadline agar cepat diperbaiki.
“Saya harap ada konsistensi. Jadi tidak hanya even promosi punya tanggung jawab. Kalau even itu berhubungan atau kerja sama dengan Pemkot Magelang, ya kedua belah pihak yang bertanggung jawab. Ini terkait fasilitas publik, alun-alun bukan punya pemkot, tetapi masyarakat bersama,” tegasnya.
Sekretaris HMI Cabang Magelang Adi Gunawan mengatakan, kegiatan Ayo ke Magelang merupakan pencitraan yang berlebihan. Upaya pencitraan seolah tidak peduli dengan hal-hal sepele yang selama ini ditata dan dijaga. Pemda dianggap tak peduli dengan dampak atau efek negatif dari kegiatan tersebut.
“Karena butuh promosi dan pencitraan, berbagai kegiatan dilaksanakan dalam kerangka Ayo ke Magelang 2015. Padahal kegiatan pencitraan banyak juga dampak negatif. Bisa terjadi fasilitas publik yang rusak atau kejenuhan masyarakat. Ini yang tidak pernah dipikirkan pemerintah,” paparnya.
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang ini berharap, pihak dewan tegas mensikapi fenomena negatif tersebut.
“Kalau memang dianggap keterlaluan, tidak ada salahnya LPJ (laporan pertanggungjawaban) dari wali kota dalam akhir masa jabatannya tidak sekedardiberi catatan. Tetapi bisa saja ditolak,” ajaknya.
Sebelumnya, Ketua Fraksi Partai Golkar (FPG) DPRD Kota Magelang Muh Harjadi melihat, program Magelang Kota Sejuta Bunga dan Ayo Ke Magelang 2015 tidak sesuai visi misi wali kota dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kota Magelang 2011-2015. Slogan baru Magelang Kota Sejuta Bunga dengan memilih bunga sebagai simbol yang merepresentasikan kebersihan, keindahan, ketertiban dan kenyamanan, nyata-nyata tidak didukung konsep yang jelas. Karenanya, terkesan asal-asalan.
Sebaliknya, Partai Golkar melihat ada penurunan jumlah pengusaha, dari tahun ke tahun. Menurutnya, itu yang seharusnya dicermati pemkot.
Dari berbagai catatan, pada 2010 ada 13.089 pengusaha di Kota Magelang. Namun, pada 2015 hanya 12.349 pengusaha atau terjadi penurunan sejumlah 740 pengusaha.
Jumlah buruh industri mengalami kenaikan 1.989 orang. Yakni, dari 22.259 orang menjadi 24.248 orang. Bahkan, jumlah industri kecil juga turun. Pada 2010, ada 1.761 industri. Kini, pada tahun ini hanya 1.359 industri atau turun 402 industri.
“Artinya, tidak terlihat visi Kota Magelang dalam soal mandiri dan sejahtera,” urainya.
Menurut Haryadi, jika mencermati LPJ Wali Kota TA 2014, peningkatan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota Magelang kurang signifikan. Yakni hanya 8,20 persen dari 2013- 2014 atau dari 913.768 wisatawan menjadi hanya 988.662 wisatawan. Ia menyebut, programMagelang Kota Sejuta Bungabelum terlihat daya tariknya.
“Ditambah program Ayo ke Magelang 2015belum dikemas baik dengan berbagai kesenian dan budaya lokal. Penyebarluasan informasi dan promosi even secara optimal dengan skala regional, nasional, bahkan internasional belum terlaksana dengan baik. Termasuk kerja sama dengan stake holder yang terkait jasa pariwisata. Mulai dari travel agent dan media massa, baik cetak maupun elektronik,” katanya.(dem/hes/ong)

Magelang