MAGELANG– Komisi A DPRD Kota Magelang tidak sekedar prihatin atas masalah rusaknya rumput alun-alun yang terjadi belakangan ini. Para wakil rakyat ini sepakat bakal memanggil pihak-pihak pemangku kepentingan. Lembaga ini berencana melaksanakan pemanggilan paling telat minggu depan.
Pemanggilan dilakukan agar mereka segera menjelaskan, mengapa mereka meloloskan acara musik bersponsor yang digelar sebuah perusahaan otomotif roda dua di alun-alun setempat, beberapa waktu lalu.
Komisi yang membidangi hukum dan pemerintahan telah mengumpulkan sejumlah bukti sebagai pendukung. Di antaranya, bukti kerusakan rumput alun-alun pascakegiatan. Juga adanya rekomendasi yang tidak benar-benar dijalankan secara utuh.
“Informasinya, pihak BP2T (Badan Pelayanan Perizinan Terpadu) sudah dari awal tidak menyetujui adanya tambahan acara musik. Sebatas acara servis gratis dan sepanjang hanya menggunakan sebagian alun-alun saja, izin bisa keluar. Faktanya, acara tersebut akhirnya digelar, meski ada dangdutan dan musik lainnya,”kata Ketua Komisi A DPRD Kota Magelang Adi Chandra Pamungkas kemarin (8/5).
Adi yang juga Wakil Ketua DPC PKB Kota Magelang ini mengaku, mendapat masukan dari pihak BP2T secara informal soal proses keluarnya izin. Hanya, pihaknya butuh konfirmasi dan klarifikasi dengan pihak pemangku kepentingan lain, selain BP2T. Termasuk juga pihak event organizer (EO) maupun para sponsor yang terlibat.
“Semuanya akan kami panggil guna klarifikasi. Termasuk pihak EO maupun sponsor,” katanya.
Menurut Adi, proses munculnya acara musik bersponsor di alun-alun, karena ada pihak-pihak tertentu yang ingin lebih meramaikan kegiatan Wayangan dalam rangka Hari Jadi ke-1.109 Kota Magelang. Mengingatpagelaran wayang kulit pada Sabtu malam (2/5), dengan dalang Ki Joko Edan dan Ki Enthus Susmono masuk dalam 100 even Ayo ke Magelang 2015. Sehingga acara servis gratis dengan tambahan live music oleh sebuah perusahaan sepeda motor berlogo gardu tala. Semula, mereka tidak diizinkan di alun-alun dan sempat pindah ke Lapangan Rindam IV/Diponegoro. Aakhirnya, mereka balik lagi dan melaksanakan acara di alun-alun.
“Ada masukan dari pihak Ayo ke Magelang agar acara wayangan bisa meriah. Sehingga rekomendasi dari wali kota soal kegiatan servis gratis bisa berubah,” ungkapnya.
Acara wayangan memilih tempat sisi utara Alun-Alun Kota Magelang. Sebaliknya, pada sisi selatan, sejumlah panggung dan tenda yang didirikan perusahaan sepeda motor didirikan hingga area parkir Kuliner Tuin van Java. Kegiatan servis dan ganti oli gratis tersebut dimeriahkan berbagai acara. Mulai jalan sehat, hiburan keluarga, lomba untuk pelajar, lomba untuk keluarga, dan lainnya. Termasuk, hiburan musik dengan bintang tamu OM Lathanza (dangdut) dan Lapiezt Legit (reggae).
Masalah muncul karena rumput Alun-Alun Kota Magelang rusak. Selama ini, area alun-alun dikenal sebagai “area terlarang” untuk kegiatan musik promosi. Beberapa event organizer (EO) mengaku sulit mendapat izin untuk kegiatan musik. Termasuk musik dangdut.
Namun, ada keanehan saat acara promosi perusahaan sepeda motor yang digeber dua hari. Pemkot Magelang memberikan izin.
“Ini aneh, pada Maret lalu, saya mengajukan izin untuk kegiatan musik di Alun-alun Kota Magelang tapi tidak keluar. Padahal cuma musik pop. Lha ini kok bisa dapat izin. Padahal musiknya dangdut dan bertepatan dengan Minggu Pahing yang merupakan saatnya Masjid Agung menggelar pengajian rutin. Ini betul-betul aneh,” ungkap seorang pelaku EO yang mewanti-wanti agar namanya tidak dikorankan.
Rencananya, Komisi A memang dalam waktu dekat memanggil pihak pemangku kepentingan acara musik tersebut. Beberapa elemen masyarakat juga minta pihak EO dan sponsor segera memperbaiki kerusakan alun-alun, dampak dari kegiatan yang digelar.
“Tahun 2011, dana yang keluar mencapai Rp 6,1 miliar untuk menata kawasan alun-alun.Sekarang justru dirusak. Sudah aturan dilanggar, ditambah rumput juga rusak. Ini harus ada pertanggungjawaban. Pihak EO dan sponsor harus memperbaiki,” kritik Mantan Anggota DPRD Kota Magelang Lie Anto Saputro.(dem/hes/ong)

Magelang