MUNGKID – Razia penambangan ilegal yang digelar Pemkab Magelang tidak menyurutkan niat penambang beroperasi. Para penambang dikabarkan terus ber operasi di sungai yang berhulu di Merapi. Termasuk saat razia penambangan dilakukan petugas gabungan berbagai instansi.Santer terdengar, penambangan juga sudah masuk ke wilayah Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). “Penambangan itu di lakukan di dekat cekdam. Terus, informasinya sudah merambah di Jurang Jero yang masuk wilayah TNGM,” ungkap salah satu warga Merapi, kemarin (14/12).
Warga yang tidak ingin ditulis identitasnya tersebut meneruskan, para penambang sudah masuk wilayah TNGM dan terjadi cukup lama. Ia berharap pemkab lebih tegas menindak pelaku dan penanggung jawab penambangan dengan alat berat tersebut. Ia menyebut, backing penambangan ber asal dari aparat pemdes, pejabat, atau PNS. Karenanya, ia mendorogn dilusut tuntas. “Mereka perlu didiberi sanksi,” usulnya.Selain di TNGM, informasi lain menyebut penambangan masih terjadi di wilayah Dusun Windu Sabrang, Wonolelo, Sawangan
Di wilayah tersebut, alat berat masih beroperasi dengan dalih mengolah dan menata lahan warga untuk ditanami sayuran dan tanaman pertanian lain-nya. Mereka menambang di sejum-lah alur sungai di wilayah Merapi. Untuk wilayah lain juga terjadi di Kecamatan Muntilan dan Srumbung. Para penambang dengan alat berat terus kucing-kucingan di wilayah dekat Bego Pendem. Para penambang illegal itu dalam melakukan aksinya memanfaat-kan alur sungai. Seperti di Desa Taman Agung, Muntilan, sebuah alat berat masih beroperasi di alur Sungai Pabelan. “Memang penambangan dengan alat berat masih beroperasi.Se-tiap malam, saya kerap men-dengar bunyi gaduh dari alat berat itu,” ungkap Wito, salah satu warga yang tinggal tak jauh dari lokasi penambangan.
Wito meneruskan, kendati bunyi alat berat yang sedang berakti-vitas mengganggu, dirinya tak bisa melakukan banyak hal. Ia mengaku tidak berkomentar terkait setuju atau tidaknya adanya penambangan. Hanya, Wito berpikir, pada dampak lingkungan akibat penambangan tersebut. “Yang penting ling-kungan terjaga,” harapnya.Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penang-gulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang Joko Sudibyo mengatakan, kubangan bekas galian golongan C wajib direklamasi. Karena, memiliki dampak yang berbahaya bagi keselamatan masyarakat. Selain itu, berpotensi besar untuk ancaman banjir lahar dingin di kawasan pemukiman di alur sungai di lereng Merapi. “Ber-bahaya karena material dan air akan mengisi kubangan tersebut terlebih dahulu jika ada banjir lahar dingin. Penambang punya kewajiban melakukan reklama-si,” katanya. (ady/hes/ong)

Magelang