ADIDAYA PERDANA/RADAR JOGJA
MERTI DUSUN: Warga Dusun Gopaan, Genito melakukan ritual pernikahan tembakau sebagai wujud syukur pada Tuhan. Sebelumnya, mereka mengarak gunungan hasil bumi.
MUNGKID – Beragam cara mengungkapkan rasa syukur pada Tuhan yang Maha Esa. Seperti yang dilakukan warga Dusun Gopaan, Desa Genito, Windusari. Warga yang ada di daratan tinggi ini memiliki tradisi yang berbeda dengan wilayah lain di Kabupaten Magelang.Masyarakat yang se bagian besar sebagai petani tembakau ini menggelar acara pernikahan tembakau, ritual warisan nenek moyangnya
Pernikahan tembakau digam-barkan antara dua pohon tem-bakau yang ditempelkan. Ke-mudian, dua pohon tembakau dicelupkan ke dalam sendang di dusun setempat. Warga be-ramai-ramai menyaksikan pro-sesi ritual tersebut.Sebelum acara pernikahan digelar, dilakukan arak-arakan kesenian.
Dalam arak-arakan ini, selain kesenian tradisional setempat, juga ada gunungan hasil bumi yang dihiasi dengan cabai, terong, wortel, buncis, kacang panjang, dan juga pete. Tidak ketinggalan buah-buahan juga disertakan. Bahkan, dalam gunungan hasil bumi itu ada lembaran uang seribuan hingga lima ribuan.
Para tetua desa meggunakan pakaian tradisional Jawa ikut berjalan mengarak gunungan. Acara ini rutin dilakukan tiap bulan Safar. Selain tradisi per-nikahan tembakau, merti dusun itu juga diwarnai aksi grebek gunungan dan ditampilkan ke-senian lainnya. Seperti kubro siswo, wayang, dan pengajian untuk warga setempat.Kepala Dusun Gopaan Sugino mengatakan, tradisi ini me-rupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan setiap bulan Safar.
Acara yang turun temurun ter-sebut merupakan wujud syukur pada Tuhan yang Maha Esa. “Tuhan sudah memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi warga desa,” jelas Sugino, kemarin (9/12).
Menurutnya, warga tidak per-nah merasakan kesulitan dalam bercocok tanam. Hasilnya mam-pu menghidupi masyarakat. Warga bersyukur akan tanah yang subur, sehingga bisa ditanami padi, jagung, dan tembakau. “Melibatkan para petani dan perajang tembakau. Mereka se-cara sukarela menyumbang apa yang dipunyai,” imbuhnya.
Agus Merapi, salah satu seniman menjelaskan, pernikahan tem-bakau tersebut hanya sebagai simbol. Maksudnya, agar tana-man yang menjadi andalan warga setempat tetap ada terus menerus. (ady/hes/ong)

Magelang