FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
SIDAK: Ketua Komisi B DPRD Kota Magelang Waluyo melihat langsung kondisi Pusat Kuliner Tuin van Java dan menyerap aspirasi para PKL.
MAGELANG – Para wakil rakyat juga peduli dengan persoalan tenda bocor di Pusat Kuliner Tuin van Java Komplek Alun-alun Kota Magelang. Ketua Komisi B DPRD Kota Magelang Waluyo mengunjungi pusat kuliner yang terletak di sisi utara alun-alun tersebut. Ia ingin melihat dari dekat keluhan para pedagang kaki lima (PKL) yang ada di pusat kuliner kebanggaan warga Magelang
Selama ini, mereka menilai tenda branding salah satu mi-numan tersebut sudah layak diganti. Selain bocor, tenda branding tersebut juga terlihat kotor dan kumuh. Karena, lebih dua tahun terpasang. “Iya, tendanya terlihat kumuh dan kurang pantas dipasang di pusat kuliner yang berada di jantung kota ini,” ungkap Waluyo, kemarin (8/12).Ketua PAC Partai Demokrat Magelang Selatan ini mem-benarkan, kondisi tenda Tuin van Java sudah tidak layak. Selain lama terpasang, juga banyaknya lubang yang berpotensi me-nimbulkan kebocoran saat hujan turun.Karenanya, ia mendorong un-tuk dilakukan pemanggilan se-jumlah pihak. Yaitu, Komisi B, penyedia tenda, Dinas Pe ngelola Pasar (DPP), dan para PKL. “Nanti pihak ketiga, PKL, dan juga DPP akan diundang. Kami akan mengusulkan supaya relokasi di Tuin van Java ini dibangun shelter permanen saja. Tapi kami lihat dulu kerja sama antara Pem-kot Magelang de ngan pihak ke-tiga terlebih dahulu. Perjanjian-nya seperti apa,” ungkapnya.Dikatakan, bila ada klausa yang memungkinkan adanya pe-mutusan kerja sama pasti akan dilakukan. Kemudian dilakukan perencanaan pembangunan shelter permanen, dimulai pem-buatan detail engineering design yang pembiayaannya melalui APBD Perubahan 2015. “DED harus dianggarkan dulu di Perubahan 2015. Baru pada APBD 2016, kami bisa usulkan bangunan permanennya. Saya harap nantinya tenda dan lapak PKL bisa diurus pemerintah daerah sendiri. Jangan lagi di-lempar pada pihak lain. Soalnya, dampaknya menyulitkan, termasuk kalau mau mena ngani persoalan seperti ini,” katanya.Salah satu PKL Tuin van Java, Luis mengapresiasi kunjungan wakil rakyat tersebut. Apalagi pengadaan shelter permanen di Tuin van Java yang menjadi dambaan pedagang akan di-usulkan. Menurut Luis, semua itu jadi persoalan klasik pascarelokasi tahun 2011. Hingga kini, pedagang harus bergelut dengan masalah cuaca. Belum lagi jika hujan di-sertai angin, biasanya mem-buat pedagang kelimpungan menyediakan ember menampung kebocoran. “Rata-rata keluhan dari konsumen ketika hujan banyak tenda yang bocor. Kadang malah di dasarnya banyak ge-nangan air. Pengunjung jadi enggak nyaman,” urainya.Pedagang asal Cacaban, Magelang Tengah ini berharap, ada langkah konkret pasca aduan pedagang yang didengar ang-gota dewan tersebut. Ia minta pembuatan shelter nantinya te-tap memperhatikan bentuk dan konstruksi. Terutama menganti-sipasi hujan.Sebelumnya, Dinas Pengelola Pasar (DPP) belum memiliki rencana membangun shelter di kawasan Tuin van Java. Alasan-nya, lantaran pihak ketiga yang me nyediakan tenda rutin meng-ganti tenda yang tak laik pakai. Padahal, para PKL minta ada penanganan serius soal kelaikan tenda.Kepala DPP Isa Ashari menga-ku, perbaikan tenda oleh pihak ketiga rutin dilakukan. Selama tiga tahun ini, ada dua kali per-gantian tenda. Memang, ini tidak termasuk besi penyangga. (dem/hes/ong)

Magelang