MUNGKID – Mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memiliki tugas dan tanggung jawab mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia.
Mahasiswa Islam juga memiliki peran mensyiarkan agama Islam dalam konteks ke-Indonesiaan. Kedua pemikiran dasar itu me-rupakan ide dasar atas kelahiran HMI yang ada di Indonesia. Pernyataan itu terungkap saat basic training (pelatihan kader) yang dilangsungkan Komisariat Tidar HMI Cabang Magelang di Dusun Dogaten, Sukorejo, Mer-toyudan, Sabtu (25/10) dan Minggu kemarin (26/10).
“Melalui materi mission yang disampaikan ini menjadi tanggung jawab kader-kader baru HMI untuk menegaskan kembali tujuan, fungsi, dan peran HMI dalam dinamika ke-Islaman, kemahasiswaan, dan ke-Indonesiaan,” kata Muhammad Hasan, pemateri selama pelatihan kader.Hasan ingin menyampaikan pandangannya mengenai tantangan bangsa Indonesia mengenai ke-beragaman kelompok Islam radikal yang mengancam keutuhan NKRI.
Di hadapan peserta latihan kader (LK), Hasan mengungkapkan, berbagai paham radikal yang muncul di Indonesaia belakangan ini merupakan ancaman bagi bangsa Indonesia. Karenanya, mahasiswa memiliki peran tetap melangkah di jalan yang benar. Mahasiwa tidak dibenarkan menjadi bagian dalam pemberon-takan-pemberontakan ideologi. Di mana, salah satunya merupakan munculnya pergerakan ISIS.
“Keberadaan HMI adalah ke-beradaan manifestasi atas gerakan intelektual, moral, dan spiritual di Indonesia. Tentu saja hal ini tidak bisa dilepaskan dari beberapa syarat utama dari kelahiran se kaligus keberadaan HMI itu sendiri,” paparnya.
Mantan Pengurus Badan Koordinasi (Badko) HMI Jateng-Jogjakarta ini menyampaikan, sebagai salah satu organisasi mahasiswa Islam tertua dan terbesar, HMI didirikan dengan alasan yang jelas dan ideologis. HMI berangkat dari kekhawatiran dan kesadaran kritis atas kondisi Islam dan Indonesia pada 1947. (ady/hes/ong)

Magelang