MUNGKID – Kelompok yang cenderung memiliki faham radikal karena hanya memahami jihad sebatas pada bunyi naskah saja. Pemahaman teks-teks ke agamaan yang berkaitan dengan per soalan jihad tidak dipahami serius. Me-reka hanya memahami sebagai perang. Sebenarnya, ketika dipahami secara komprehensif, jihad juga memiliki makna lain. Yaitu, upaya sungguh-sungguh melakukan perbaikan.
“Sebuah makna yang sebenar-nya bisa dilakukan, mulai dari aktivitas keseharian yang di-lakukan setiap manusia,” kata Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muham-madiyah Zaini Munir.Ia hadir dalam seminar ber-tema Peran Pemuda Dalam Membendung Gerakan Radikalisme yang diselenggarakan Pimpinan Daerah (PD) Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Magelang di Aula Rektorat Kampus II Universitas Muham-madiyah (UM) Magelang Jalan Mayjend Bambang Soegeng, Kecamatan Mertoyudan, ke marin (22/10).
Menurut Zaini, dalam ber-kembangnya waktu, ada upaya dari kelompok tertentu yang mengidentikan jihad dengan teror. Mereka menyebarluaskan pemahaman pada masyarakat luas. Khususnya terhadap ge-nerasi muda. “Potensi yang ada pada ge nerasi muda seperti idealisme, me miliki daya kritis, dinamis, berani mengambil resiko, serta me miliki mobilitas tinggi perlu diarahkan untuk melakukan upaya-upaya mencegah penyebarluasan paham radikalisme di masyarakat,” tambahnya.
Dijelaskan, dalam upaya menghindari tumbuhnya gerakan dan budaya radikalisme yang akhir-akhir ini berkembang, perlu dilakukan usaha yang mampu menumbuhkan ke-kebalan dalam diri setiap manusia. Yakni, terhadap datangnya pengaruh gerakan dan budaya radikal tersebut. Karena, di tengah–tengah masyarakat ini, selalu muncul secara bergantian melalui kelom-pok-kelompok yang berbeda.
“Ketika kekebalan ada, setiap manusia secara otomatis menolak terhadap munculnya paham radikalisme. Karena, tidak sesuai ajaran agama yang sebenarnya. Untuk menumbuhkan kekebalan tersebut, diperlukan pemahaman agama yang komprehensif,” ungkap-nya.
Ketua Pusat Pembinaan dan Pengembangan Studi Islam (P3SI) UM Magelang Agus Miswanto menambahkan, keluarga me-miliki peran yang strategis dalam upaya membentuk karakter bangsa. Khususnya pada ge nerasi muda. Melalui keluarga bisa ditanamkan nilai-nilai ajaran agama sejak dini.
“Seperti humanisme, keadilan, perdamaian, maupun toleransi (tasamuh),” katanya.Wakil Ketua PD Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Mage-lang Sapari menjelaskan, semi-nar dihadiri perwakilan dari berbagai elemen masyarakat. Seperti, Kantor Kesatuan Bang-sa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Magelang, Pimpinan Cabang dan Ranting Pemuda Muhammadiyah dan perwakilan guru serta siswa dari SMA, SMK, dan MA. (ady/hes/ong)

Magelang