Praktik di Galeri Batik Soemirah, Dilatih Kelik Subagyo

Batik merupakan proses. Yakni, proses menggunakan malam. Kalau kemudian ada kain atau apalah, hanya karena bermotif bunga, kemudian disebut batik, itu tidak benar. Kalau disebut kain bermotif batik, baru benar
FRIETQI SURYAWAN, Magelang
KALIMAT di atas selalu ditekankan Kelik Subagyo, di hadapan puluhan siswa SMPN 7 Kota Magelang yang tengah belajar mem-batik. Proses belajar batik sendiri dilakukan di sebuah rumah sederhana yang masih berlantai tanah. Di situ, Kelik mencoba mempopulerkan batik. Apalagi kemarin (2/10) bertepatan dengan Hari Batik. Saat itu, puluhan siswa SMPN 7 mencoba berbagai cara membatik. Mulai menggunakan canting hingga mengunakan cap. “Sepanjang menggunakan malam dalam prosesnya, itu disebut batik. Malam itu digunakan dengan canting atau cap, sama saja,” papar pria yang sebenarnya bercita-cita menjadi petani ini.Kelik yang pernah mendapat juara tiga design batik tingkat Jawa Tengah ini meneruskan, proses membatik mem butuhkan waktu yang lama dan cukup rumit. Awalnya, bahan malam atau lilin dipanaskan me-nggunakan wajan di atas bara api
Kemudian, baru di batik meng-gunakan media kain. Setelah itu dilakukan pewarnaan. Jika di-kehendaki warna lain, warna pertama yang harus ditutup menggunakan malam. “Kalau sudah selesai, direbus untuk melenturkan malam-nya. Kemudian di jemur. Untuk batik konvensional atau cap, bisa selesai satu hari. Kalau tulis, paling cepat satu minggu dan paling lama tiga minggu,” paparnya.Hingga kini, usaha yang di geluti Kelik berkembang dan men dapat kepercayaan dari konsumen. Lulusan SMK Tarakanita Mage-lang ini banyak mengerjakan pesanan. Paling banyak berupa batik tulis untuk fashion. “Saya pakai bahan katun. Selain tebal dan bahannya dingin. Ini juga tidak mengkerut atau susut kalau dicuci. Warna-warna batik saya terang. Kata konsumen, pengerjaannya lebih rapi,” imbuhnya
Selain dibanjiri pesanan, Kelik sering kedatangan tamu dari daerah lain. Bahkan, anak-anak sekolah datang untuk belajar membatik di rumahnya. Justru seperti itu yang membuat ia bangga dan terharu. “Kalau bisa mengajarkan sesuatu ke orang lain, berarti ilmu saya bermanfaat,” tegas pemilik Galeri Batik Soemirah ini.Para siswa SMPN 7 Kota Magelang sengaja berkunjung ke workshop milik Kelik. Mereka belajar membatik dengan teknik canting. Setidaknya, ada 33 siswa- siswi yang mengikuti ekstrakurikurel membatik. Mereka ingin belajar lebih jauh soal proses.
“Dulu membatik ikut dalam pelajaran seni. Dalam silabus, hanya dua jam materi itu di-berikan. Satu jam teori, satu jam praktik. Tetapi sejak Kurikulum 2013 ini, membatik jadi ektra-kurikuler. Ini yang akan kami jadikan unggulan sekolah,” kata Guru SMPN 7 Kota Magelang, Ani Mardiani.Ani yang kesehariannya men-jadi humas SMPN 7 Kota Magelang ini mengakui, meski tergolong baru, ektrakurikuler membatik ternyata cukup diminati. “Membatik dipilih untuk me-latih anak mencintai budayanya sendiri. Dengan mengenal pro-ses membatik, akan tumbuh motivasi untuk mengembangkan. Siapa tahu ada yang memilik bakat dibidang ini. Tentu bisa buat bekal masa depan mereka,” tegasnya.
Amanda, salah satu siswi yang mengikuti kegiatan membatik tersebut mengungkapkan pe-rasaannya saat pertama kali mendapatkan pelajaran mem-batik. Ia senang dan pingin belajar terus sampai bisa. “Ini baru pertama kali, jadi grogi. Tapi Mas Kelik sabar mem-bimbing kami. Walau ia sudah mahir dan tadi aku juga lihat be-berapa piagam penghargaannya, tapi orangnya tetap sederhana. Saya suka,” ungkap Amanda.Zirana, salah satu staf Kelik yang ikut membantu pelatihan mem-benarkan, kalau proses mem-batik adalah hal yang menyenang-kan. “Pertama memang susah. Tapi setelah itu, bikin ketagihan,” kata Zirana sembari tersenyum. (*/hes/nn)

Magelang