MAGELANG – Berbagai kritikan soal penyelenggara putra dan putri Duta Wisata (Duwis) Kota Magelang seakan tidak dipedulikan. Seleksi peserta dilakukan panitia, kemarin (17/9). Kemudian, dilanjutkan pembekalan pada 90 muda- mudi di Aula Bappeda Kota Magelang.
Kepala Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Kebudayaan (Disporabudpar) Kota Magelang Hartoko mengaku, bakal berupaya memberdayakan duwis lebih berarti, dibanding tahun sebelumnya. Ia tidak menampik duwis pada tahun lalu, seringkali hanya dijadikan among tamu dan kegiatan tertentu di kalangan pemerintahan.
“Bedanya duta wisata tahun ini harus berfungsi dan memiliki peranan lebih dari duta wisata sebelumnya. Jika kemarin hanya sebagai among tamu, sekarang harus bisa sebagai agent of promotion dan agent of change generasi muda,” papar Hartoko.
Ia meneruskan, agen promosi termasuk kemampuan dalam mempromosikan wisata. Ini bisa dilihat dari retorika dan sikap yang baik pada publik. Diharapkan, tugas duwis lainnya adalah sebagai guide atau kamus berjalan bagi wisatawan mancanegara.
“Ia juga harus mampu berbahasa Inggris dan menjadi master of ceremony (MC) dalam kegiatan Pemkot Magelang maupun di luar itu. Ke depan, rencana kami ada tourist information center (TEC) untuk membantu, bila ada turis yang butuh informasi soal wisata dan duwis berperan di dalamnya,” katanya.
Hartoko menambahkan, dibanding tahun lalu, peserta Duwis 2014 meningkat 10 persen. Yaitu, 52 laki-laki dan 38 perempuan. Dominasi calon peserta ini adalah kalangan pelajar SMA sebanyak 80 persen. Sisanya, karyawan dan mahasiswa.
“Setelah ini diselenggarakan tes perkenalan diri dan motivasi menjadi duta wisata. Ini akan langsung dinilai, setelah sebelumnya ada tes fisik meliputi tinggi badan untuk perempuan 160 sentimeter dan laki-laki minimal 170 sentimeter,” katanya.
Para duwis akan dibekali materi soal potensi wisata dan program Pemkot Magelang 2015 mendatang. Yaitu, Ayo ke Magelang.
Materi tersebut meliputi Program Sejuta Bunga, Ayo ke Magelang, seni budaya, pembangunan dan beauty class, bagi duwis perempuan.
“Seleksi cukup ketat. Untuk kemampuan duwis di tiga besar wajib memiliki retorika bahasa Inggris yang mumpuni,” tegasnya.
Setelah melalui tahapan seleksi, penobatan Duta Wisata Kota Magelang rencananya dilangsungkan pada Jumat pekan depan (26/9). Selain juara pertama, juga diberikan hadiah pada juara kedua, ketiga, dan empat kategori pemenang. Antara lain, kategori intelegensia, persahabatan, favorit, dan kepribadian.
“Ada keharusan mereka mampu menerapkan bahasa Jawa sebagai identitas Jawa Tengah. Di sisi lain, bahasa Inggris dan Indonesia juga harus bagus,” katanya.
Untuk menyelenggarakan ajang pemilihan putra dan putri terbaik di Kota Jasa tersebut, Disporabudpar Kota Magelang menyediakan anggaran Rp 120 juta. Ia mengakui jumlah itu belum cukup untuk mengalokasikan semua kegiatan.
“Beruntung mendapat sponsor dari provider dan perusahaan swasta. Ini yang membuat kami optimistis, gelaran tahun ini meriah,” tegasnya.
Sebelumnya, ajang pemilihan Duwis Kota Magelang mendapat sorotan sejumlah kalangan. Mereka menyesalkan perhelatan tersebut sering tak dibarengi peningkatan okupansi wisata. Bahkan, peranan duwis sering hanya sebagai among tamu dan kegiatan pemerintahan.
“Duwis jarang muncul pada promosi, terutama yang sifatnya lebih dalam. Setahu kami, duta wisata mendampingi wali kota pada acara-acara seremonial atau penerima tamu saja,” kritik Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Magelang Edy Hamdani, baru-baru ini.
Mutia Nur Octaviani, salah satu peserta Duwis Kota Magelang mengaku tertarik ikut kontes, karena ingin menambah pengalaman baru. Ia juga ingin melatih mental pada usia yang masih belia.
“Sebagai duwis semestinya disibukkan ini-itu. Nggak cuma ikut kegiatan dan beres. Saya coba berusaha sebaik-baiknya nanti. Harapannya bisa lolos jadi juara,” kata siswi MA Al Iman Kota Magelang ini.(dem/hes)
Gunakan Anggaran Rp 120 Juta

Magelang